Dikira Mati, Venus Ternyata Sedang Merobek Dirinya dari Dalam

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Kamis, 30/07/2026 07:45 WIB
Foto: Planet Venus. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Ilmuwan berhasil membuat model tiga dimensi (3D) beresolusi tinggi pertama yang mengungkap aktivitas di bawah permukaan Venus.

Simulasi tersebut menunjukkan bahwa planet yang selama ini dianggap telah "mati" secara geologi ternyata masih aktif, bahkan diduga sedang merobek keraknya sendiri dari dalam melalui lembah retakan raksasa.

Temuan itu berasal dari penelitian terbaru yang dipimpin Taras Gerya, Profesor Geodinamika di Departemen Ilmu Bumi dan Planet ETH. Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience tersebut dipimpin oleh Xi Yang, yang menyelesaikan penelitian itu saat menempuh studi magisternya di bawah bimbingan Gerya.


Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menganggap Venus sebagai planet yang tidak lagi aktif secara geologi.

Meski memiliki suhu permukaan mencapai ratusan derajat Celsius dan tidak memiliki lautan seperti Bumi, penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa bagian dalam Venus masih hidup dan kemungkinan masih memiliki gunung berapi aktif.

Salah satu bukti terkuat aktivitas tektonik di Venus adalah keberadaan lembah retakan atau rift valley berukuran sangat besar. Struktur serupa memang ada di Bumi, seperti Lembah Celah Afrika, tetapi retakan di Venus dapat membentang hingga sekitar 10.000 kilometer.

Selama ini, banyak ahli geologi meyakini lembah-lembah retakan tersebut terbentuk lebih dari 100 juta tahun lalu dan hanya menjadi jejak purba yang masih bertahan di permukaan planet.

Namun, simulasi komputer terbaru dari tim ETH membantah anggapan tersebut. Melalui model 3D yang lebih rinci dibandingkan simulasi sebelumnya, para peneliti berhasil merekonstruksi pembentukan lembah retakan Venus secara lebih akurat sekaligus memberikan bukti baru bahwa aktivitas geologi di planet tersebut kemungkinan masih berlangsung.

Berbeda dengan simulasi terdahulu yang sebagian besar hanya menggunakan model dua dimensi dan mengandalkan berbagai penyederhanaan, pendekatan baru ini memberikan gambaran yang lebih realistis mengenai bagaimana kerak Venus meregang, bergeser, dan kembali mengalami relaksasi seiring waktu.

Simulasi gejolak Venus

Hasil simulasi menunjukkan bahwa ketika lembah retakan masih berusia muda secara geologi, akan terbentuk punggungan tinggi dan lebar di kedua sisinya yang disebut rift flanks. Struktur ini muncul saat retakan masih bergerak atau tidak lama setelah pergerakan berhenti.

Model tersebut juga memperkirakan bahwa retakan di Venus berkembang lebih cepat daripada dugaan sebelumnya. Menurut simulasi, lembah retakan itu dapat melebar sekitar 3 hingga 10 sentimeter setiap tahun.

Para peneliti juga menemukan bahwa setelah aktivitas tektonik berhenti, punggungan di sisi retakan mulai mendatar dalam waktu yang relatif singkat. Seiring bertambahnya usia sistem retakan, punggungan tersebut menjadi lebih rendah, lebih lebar, dan bentuknya semakin samar.

Proses itu berbeda dengan yang terjadi di Bumi. Jika di Bumi pegunungan terkikis akibat erosi, di Venus punggungan tersebut justru perlahan turun karena kerak planet mengalami relaksasi setelah sebelumnya mengalami peregangan.

Menariknya, bentuk punggungan lebar yang diprediksi dalam simulasi juga terlihat pada citra yang diambil wahana Magellan saat menjalankan misinya pada 1990-an. Kemiripan antara hasil simulasi dan kondisi nyata di permukaan Venus memperkuat dugaan bahwa sebagian lembah retakan tersebut terbentuk dalam waktu yang relatif baru.

Dengan menggabungkan hasil simulasi dan pengamatan dari wahana antariksa, para peneliti menyimpulkan bahwa bagian dalam Venus jauh lebih aktif dan dinamis dibandingkan perkiraan sebelumnya.

"Hasil penelitian ini membantu kami menilai aktivitas tektonik di Venus dengan lebih baik," kata Gerya, dikutip dari Science Daily, Selasa (28/7/2026).

Model baru tersebut juga diharapkan dapat membantu ilmuwan menentukan wilayah yang masih berpotensi mengalami aktivitas geologi. Area-area tersebut bisa menjadi target utama misi eksplorasi berikutnya untuk mencari bukti aktivitas tektonik maupun vulkanisme yang masih berlangsung.

Selain itu, temuan ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman ilmuwan mengenai bagaimana planet berbatu terbentuk dan berevolusi. Penelitian tersebut juga berpotensi membantu pencarian serta studi terhadap planet-planet berbatu di luar Tata Surya.

Venus pusat perhatian

Minat untuk mengeksplorasi Venus kini terus meningkat. NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA) tengah menyiapkan sejumlah misi untuk mempelajari planet tetangga Bumi tersebut.

Profesor geofisika ETH Paul Tackley dan Taras Gerya bersama para kolaboratornya turut berkontribusi dalam misi EnVision milik ESA. Tim mereka mengembangkan instrumen yang akan digunakan wahana pengorbit Venus untuk mempelajari permukaan planet itu.

Misi EnVision dijadwalkan meluncur pada awal dekade 2030-an dan akan meneliti Venus secara jauh lebih terperinci, mulai dari inti planet hingga lapisan atmosfer bagian atasnya.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perkuat Data Center AI: Infrastruktur Berkelanjutan Jadi Kunci