Peneliti Ciptakan Komputer Otak Manusia, Hasilnya Tak Terduga
Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi membuat banyak orang membandingkan cara kerja otak manusia dengan komputer. Bahkan, beberapa penelitian melakukan pengujian dan mencoba membangun komputer berisi kultur sel otak yang ditumbuhkan.
Kini, penelitian berkembang menuju jaringan otak yang menggabungkan memori dan komputasi dalam substrat yang sama. Potensinya memang besar, tetapi di sisi lain juga menimbulkan masalah.
Dalam artikel yang dipublikasikan di Nature, Nada Salem dari Fakultas Kedokteran Harvard dan timnya mengatakan bahwa satu hal yang belum dibahas dalam perdebatan penggunaan jaringan otak untuk komputasi adalah kurang eksplisitnya persetujuan penggunaan jaringan saraf manusia dalam komputasi biologi.
Sebagai informasi, mereka yang menyumbangkan jaringannya untuk penelitian biomedis biasanya menyetujui studi penelitian tertentu. Mereka mungkin juga ditanya apakah sisa spesimen bisa disimpan dan digunakan dalam penelitian di masa depan (disebut persetujuan terbuka).
Namun, sebagian besar dari mereka biasanya tidak tahu. Studi yang dipublikasikan di Nature tersebut menyebutkan bahwa formulir persetujuan kemungkinan besar tidak menanyakan jenis penelitian apa saja yang diperbolehkan menggunakan jaringan mereka.
"Formulir persetujuan tidak menanyakan kepada pendonor jenis penelitian apa yang mereka inginkan agar sel mereka digunakan di masa depan, atau yang lebih penting, semua kemungkinan cara yang tidak diinginkan saat sel tersebut digunakan," tulis studi tersebut, dikutip Selasa (28/7/2026).
Bahkan, tim penulis menekankan perlunya persetujuan donor yang lebih eksplisit untuk penelitian yang menggunakan jaringan otak yang ditumbuhkan di laboratorium. Sudah seharusnya para peneliti juga menghindari penggunaan lini sel yang hanya diizinkan untuk penelitian biomedis biasa.
Tim penulis juga mengakui bahwa mungkin sejumlah peneliti dan ahli etika mengabaikan kekhawatiran etis dalam artikel tersebut. Hal ini karena hampir tidak mungkin mendapatkan izin terlebih dahulu untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak selalu bisa diprediksi.
Meski demikian, persetujuan terbuka juga bisa merugikan jika digunakan secara sembarangan. Selain itu, penggunaan persetujuan terbuka biasanya baru dianggap etis jika masih berkaitan dengan ranah biomedis.
Sejumlah pendonor juga telah menyatakan kekhawatiran atas penggunaan sampel mereka untuk tujuan komersial. Bahkan, ada juga yang ingin mengetahui tujuan spesifik penelitian ketika sel mereka dibuat menjadi organoid otak. Beberapa di antaranya bahkan ingin memiliki hak untuk mencabut persetujuan jika tidak setuju dengan penelitian masa depan yang menggunakan jaringan milik mereka.
Oleh karena itu, tim penulis kembali menekankan bahwa penelitian komputer biologis berbasis otak perlu pengawasan etika yang ketat. Mengingat adanya kekhawatiran pendonor dan kemungkinan hasil penelitian menjadi produk komersial non-biomedis di masa depan-seperti teknologi pengenalan suara dan wajah.
"Pendekatan dengan persetujuan tanpa batas bukanlah solusi etika yang baik dalam hal ini," tulis tim tersebut.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]