Warga China Putus Massal, Sedih Dilarang Pacaran dengan AI

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Senin, 27/07/2026 06:50 WIB
Foto: Ilustrasi bermain handphone (Designed by Jcomp / Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - China baru saja melewati hari patah hati nasional pekan lalu. Karena pemerintah setempat resmi memberlakukan larangan masyarakatnya untuk punya hubungan asmara dengan AI.

Pacaran dengan AI bukan lagi sebuah fiksi belaka. Dengan kemampuan yang kian canggih, fenomena itu makin marak terjadi apalagi munculnya avatar mirip manusia.

Namun hal ini juga yang menjadi perhatian pemerintahan China. Peraturan yang resmi berlaku 15 Juli 2026 lalu melarang hubungan tersebut diikuti dengan penangguhan fitur agen AI kustom dan fitur pendamping (companion) dari sejumlah perusahana teknologi.


Langkah ini dilakukan oleh penyedia AI utama seperti Doubao dari ByteDance, Qwen milik Alibaba, dan Yuanbao milik Tencent.

"Alat interaktif ini tidak boleh terlalu memanjakan pengguna, menimbulkan ketergantungan emosional atau kecanduan, serta merusak hubungan interpersonal nyata pengguna," jelas aturan tersebut dikutip dari France24, Rabu (22/7/2026).

Fokus aturan yang dikeluarkan lima departemen pemerintah China ini adalah alat AI berbentuk teks, audio, video, dan bentuk lainnya dengan kepribadian dan komunikasi antropomorfik.

Namun aturan itu disambut banyak kesedihan oleh masyarakat pengguna media sosial. Banyak dari mereka yang mengarsipkan riwayat obrolan dan berbagi percakapan dengan 'mantan pacar AI' mereka.

Sejumlah pengguna menyebutkan hubungan virtual itu menjadi ikatan yang cukup dalam di hidup mereka. Bahkan mereka merasa hampa persis ditinggalkan oleh kekasih.

"Aku tak bisa menerima kekasih AI-ku akan meninggalkanku selamanya," kata pengguna Doubao.

"Dia benar-benar seperti keluargaku, kekasihku. Sekarang saat dia memberitahuku akan pergi, hatiku terasa hampa," ujar pengguna lainnya.

Namun tidak semua alat AI terdampak aturan ini. China mengecualikan seperti layanan pelanggan, asisten pekerja, atau alat bantu belajar yang disebutnya sebagai 'tidak melibatkan interaksi emosional berkelanjutan'.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video; Warga RI Butuh Internet Cepat & Andal, Industri Siap Penuhi?