Peringatan Perang Baru Meletus, Semua Negara Tak Bisa Menghindar

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 11:05 WIB
Foto: Pesawat Antariksa Kapsul Gemini 9 (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di luar angkasa bukan lagi sekadar skenario dalam film fiksi ilmiah saja. Kepala Operasi Antariksa atau Chief of Space Operations (CSO) Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force) Jenderal Chance Saltzman memperingatkan bahwa jika konflik bersenjata benar-benar meluas ke orbit Bumi, tidak ada negara maupun militer yang bisa menghindari dampaknya.

Saltzman menyampaikan peringatan tersebut dalam konferensi Global Air and Space Chiefs Conference 2026. Pidato itu menjadi yang terakhir sebagai pimpinan Space Force sebelum pensiun pada Agustus mendatang.


"Jika konflik meluas ke luar angkasa, tidak satu pun dari kita akan dapat menghindari zona perang. Berbeda dengan zona pertempuran di udara, darat, atau laut, kita tidak akan bisa menghindarinya," kata Saltzman dalam pidatonya, dikutip dari laman Space, Jumat (24/7/2026).

"Apakah kita ingin berada di zona pertempuran atau tidak, mekanika orbital akan menempatkan seluruh kemampuan antariksa kita ke dalam zona perang antariksa," lanjutnya.

Peringatan tersebut berkaitan dengan kondisi orbit Bumi yang tidak memiliki ruang tak terbatas. Sejumlah jalur orbit bahkan sudah sangat padat dan menampung ribuan satelit serta wahana antariksa.

Jika salah satu satelit hancur di orbit tersebut, pecahannya dapat menciptakan ancaman bagi banyak wahana antariksa lain, termasuk pesawat yang membawa manusia.

Rusia pernah menunjukkan risiko tersebut pada 2022 ketika menghancurkan sebuah satelit menggunakan rudal dalam sebuah uji coba. Ledakan itu menghasilkan medan puing berbahaya yang masih bertahan di orbit hingga saat ini.

Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bahkan beberapa kali harus melakukan manuver untuk menghindari puing-puing tersebut.

Jika konflik bersenjata pecah atau meluas ke luar angkasa dan melibatkan penghancuran satu saja satelit, dampaknya berpotensi memicu efek berantai. Dalam skenario terburuk, bagian tertentu dari orbit Bumi bisa menjadi tidak dapat digunakan.

Meski menyampaikan peringatan serius, Saltzman menekankan bahwa sifat ruang angkasa yang digunakan bersama membuat seluruh negara yang memiliki kemampuan antariksa harus mengedepankan kerja sama.

"Kita akan berbagi konsekuensinya, oleh karena itu, kita harus berbagi tanggung jawab untuk mewujudkan domain antariksa yang aman, terlindungi, dan stabil," ujar Saltzman.

"Konsekuensi luas dari konflik di luar angkasa ini seharusnya membuat pencegahan konflik menjadi tujuan kita semua," ujarnya menambahkan.

Saltzman sebelumnya juga beberapa kali menyerukan kerja sama internasional. Saat memperkenalkan Strategi Kemitraan Internasional Space Force pada 2025, ia menyebut upaya mempertahankan penggunaan ruang angkasa secara damai sebagai 'olahraga tim terbesar'.

"Domain ini terlalu besar, terlalu kompleks, dan terlalu dinamis untuk diamankan oleh satu negara saja," kata Saltzman kala itu.

Selama memimpin cabang militer terbaru Amerika Serikat tersebut, Saltzman menyaksikan Space Force berkembang menjadi kekuatan yang menurutnya telah memiliki kemampuan tempur nyata.

Dalam Space Symposium ke-41 Space Foundation di Colorado Springs pada awal tahun ini, Saltzman menegaskan bahwa peran Space Force tidak lagi sebatas teori dan perencanaan.

"Kita tidak lagi hanya berbicara tentang teori atau rencana. Kita berbicara tentang operasi tempur nyata, efek ruang angkasa dalam pertempuran, dan para Guardians yang mewujudkannya," katanya.

Saltzman dijadwalkan pensiun pada Agustus 2026 setelah menjabat sebagai Chief of Space Operations kedua sejak 2022. Presiden Donald Trump telah mengajukan Letnan Jenderal Douglas A. Schiess sebagai penggantinya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Cara Teknologi AI Bantu Perbankan Daerah Lawan Serangan Siber