Tak Terima Dipecat, Karyawan Hapus Server Perusahaan Senilai Rp 16 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang pemuda asal India nekat melakukan aksi kriminal dengan membobol sistem pengujian komputer dan menghapus 180 server virtual. Tindakan nekat ini dipicu oleh rasa sakit hati dan kekesalan karena dirinya dipecat oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Akibat perbuatan tersebut, perusahaan mantan tempatnya bekerja mengalami kerugian yang tak main-main, yakni mencapai US$ 918.000 atau setara Rp 16,4 miliar.
Atas tindakan ilegalnya itu, pria bernama Kandula tersebut dijatuhi hukuman 2 tahun 8 bulan penjara. Mengutip CNA, Rabu (22/7/2026), pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap Kandula oleh perusahaan penyedia layanan informasi, komunikasi, dan teknologi bernama NCS dilakukan pada Oktober 2022 akibat kinerjanya yang dinilai buruk.
Ia resmi menyelesaikan hari terakhir kerjanya pada 16 November 2022. Berdasarkan dokumen pengadilan, Kandula mengaku bingung dan kesal atas pemecatan tersebut.
Ia merasa telah bekerja dengan baik dan memberikan kontribusi positif selama bergabung di NCS. Setelah diberhentikan, Kandula tidak lagi memiliki pekerjaan di Singapura dan terpaksa kembali ke kampung halamannya di India.
Sebelum dipecat, Kandula merupakan bagian dari tim beranggotakan 20 orang yang mengelola sistem komputer quality assurance (QA) di NCS sejak November 2021 hingga Oktober 2022. Sistem ini berfungsi untuk menguji perangkat lunak dan program baru sebelum resmi diluncurkan.
Pihak NCS mengonfirmasi bahwa sistem yang dirusak merupakan "sistem pengujian mandiri" yang terdiri dari sekitar 180 server virtual dan tidak menyimpan informasi sensitif di dalamnya.
Kronologi Pembobolan Server
Kendati telah kembali ke India, rasa sakit hati Kandula tak lantas padam. Menggunakan laptop pribadinya, ia menyusup ke dalam sistem NCS memanfaatkan kredensial login administrator secara ilegal sebanyak enam kali dalam rentang 6 Januari hingga 17 Januari 2023.
Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan baru dan menumpang di kamar milik mantan rekannya di NCS. Menggunakan jaringan Wi-Fi di tempat tersebut, ia kembali mengakses sistem NCS pada 23 Februari 2023.
Selama periode akses ilegal dalam dua bulan tersebut, Kandula menulis dan menguji beberapa skrip komputer di Google untuk memastikan apakah skrip tersebut dapat digunakan untuk menghapus server.
Puncaknya terjadi pada Maret 2023. Setelah mengakses sistem QA NCS sebanyak 13 kali, Kandula mengeksekusi skrip yang telah diprogram pada 18 dan 19 Maret untuk menghapus 180 server virtual secara berurutan satu per satu.
Keesokan harinya, tim IT NCS mendapati sistem tersebut tidak dapat diakses. Setelah berupaya melakukan troubleshooting tanpa hasil, mereka baru menyadari bahwa seluruh server telah hilang dihapus.
Kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian pada 11 April 2023 usai penyelidikan internal menemukan beberapa alamat IP mencurigakan. Polisi kemudian menyita laptop milik Kandula dan menemukan bukti skrip yang digunakan untuk melakukan aksi penghapusan server tersebut.
(fab/fab) Add
source on Google