Mendadak Muncul 'Gunung Baru' di Jawa Tengah, Ini Kata Ahli Geologi

Redaksi,  CNBC Indonesia
21 July 2026 13:45
Fenomena Mud Volcano di Grobogan: Ketika Gundukan Lumpur Diduga Gunung Api. (Dok. Perpustakaan Fakultas Geografi UGM)
Foto: Fenomena Mud Volcano di Grobogan: Ketika Gundukan Lumpur Diduga Gunung Api. (Dok. Perpustakaan Fakultas Geografi UGM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan gundukan tanah menyerupai gunung api di wilayah Grobogan, Jawa Tengah, sempat menghebohkan masyarakat usai beredarnya foto dan video di media sosial pada Maret 2024 lalu. Penampakan semburan tanah tersebut memicu spekulasi publik terkait potensi aktivitas gunung api baru pascagempa bumi bermagnitudo 6,5 yang mengguncang kawasan tersebut pada 22 Maret 2024.

Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Muhammad Wafid A.N., menegaskan bahwa gundukan setinggi 25 meter di atas permukaan tanah tersebut bukanlah gunung api vulkanik, melainkan fenomena mud volcano atau gunung lumpur.

Berdasarkan publikasi di laman resmi EGSA UGM, pembentukan mud volcano ini dipicu oleh akumulasi gas alam (natural gas) yang bergerak naik ke permukaan melalui rekahan sesar mendatar yang tegak (konduit). Gas tersebut membawa material lumpur dengan densitas lebih ringan dibanding sedimen di sekitarnya.

"Berbagai material, seperti lumpur, gas, batuan, belerang, garam, dan air akan diletuskan di permukaan membentuk kerucut seperti gunung," tertulis dalam laporan EGSA UGM mengutip studi Sabdaningsih (2020).

Guncangan gempa bumi dangkal sebelumnya memicu migrasi hidrokarbon dan lumpur menjadi lebih aktif akibat terbentuknya rekahan atau patahan baru, sehingga mendororng lumpur panas keluar ke permukaan dengan tekanan cukup besar.

Fenomena mud volcano di Grobogan sendiri sebenarnya bukan peristiwa yang asing. Struktur geologi di kawasan tersebut didominasi oleh batuan yang mengalami sesar memanjang dari arah barat daya menuju timur laut, yang menjadi jalur keluarnya aliran gas ke permukaan Bumi.

Dampak Lahan Pertanian dan Ancaman Gas Beracun

Meski letusannya tidak bersifat eksplosif layaknya gunung api magmatik, keberadaan mud volcano tetap membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar.

Semburan lumpur panas yang keluar secara berkala dan sering berpindah titik dapat merusak lahan pertanian, ladang, serta sawah milik warga setempat. Selain kerugian material, fenomena ini juga menyimpan potensi bahaya dari paparan gas beracun, seperti:

  • Hidrogen Sulfida: Memiliki aroma menyengat menyerupai telur busuk. Dalam konsentrasi tinggi, gas ini dapat memicu iritasi berat pada mata, hidung, dan saluran pernapasan.
  • Karbondioksida Paparan gas karbondioksida konsentrasi tinggi di area semburan berisiko menyebabkan sesak napas, pusing, hingga ancaman keselamatan jiwa.

Potensi Ekonomi dan Riset Ilmiah

Di balik risikonya, fenomena alam ini juga menyimpan potensi ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan jika dikelola dengan tepat. Pemerintah diharapkan hadir untuk memberikan solusi bagi warga yang terdampak kerugian lahan, sekaligus memanfaatkan potensi baru dari lokasi tersebut.

Lumpur pada mud volcano diketahui mengandung berbagai mineral berharga seperti litium, kaolinit, dan kalsit, serta keberadaan mikroorganisme unik berupa bakteri halofilik. Kandungan ini dinilai prospektif untuk dimanfaatkan dalam sektor industri, konservasi lingkungan, pertanian, hingga kesehatan melalui riset lanjutan.

Selain itu, lokasi mud volcano juga berpeluang dikembangkan sebagai destinasi geowisata, industri kreatif, serta laboratorium alam bagi para ilmuwan geologi dan lingkungan untuk mempelajari dinamika kerak bumi dan potensi sumber daya alam di masa depan.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Aliran Sungai Terbesar di Dunia Berubah Arah, Ilmuwan Ungkap Faktanya


Most Popular
Features