Buruh Pabrik Kompak Mogok Kerja, Tolak Pekerjaan Digantikan Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan teknologi kendaraan listrik (EV) bukan satu-satunya perubahan besar yang terjadi di industri otomotif. Kabarnya, robot mulai masuk ke pabrik-pabrik mobil dan membuat pekerja manusia khawatir kehilangan pekerjaan.
Karyawan Hyundai di Korea Selatan bahkan mulai melakukan aksi mogok kerja selama tiga hari setelah negosiasi upah antara serikat pekerja dan manajemen menemui jalan buntu.
Para pekerja tidak langsung menghentikan seluruh aktivitas produksi. Mereka memilih meninggalkan tempat kerja dua jam lebih awal hingga Rabu, sementara para pemimpin serikat pekerja terus berunding dengan manajemen untuk menghindari perselisihan yang lebih panjang, seperti laporan Bloomberg dan dikutip dari Carscoops, Kamis (16/7/2026).
Persoalan upah menjadi salah satu sumber masalahnya. Serikat pekerja menuntut kenaikan gaji pokok yang lebih besar, bonus yang lebih tinggi, serta skema pembagian keuntungan yang terhubung dengan kinerja tahunan perusahaan.
Para pekerja berpendapat bahwa jika karyawan perusahaan teknologi ikut menikmati keuntungan dari ledakan industri kecerdasan buatan (AI), maka pekerja yang memproduksi kendaraan juga seharusnya mendapatkan manfaat dari pertumbuhan bisnis tersebut.
Namun, aksi mogok ini bukan hanya soal mendapatkan lebih banyak uang saat ini. Para pekerja juga ingin memastikan mereka tetap memiliki penghasilan pada masa depan ketika otomatisasi semakin berkembang.
Hyundai sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk memasukkan robot humanoid Atlas milik Boston Dynamics, perusahaan yang dimiliki Hyundai, ke pabrik-pabriknya di Amerika Serikat mulai 2028.
Pada tahap awal, robot tersebut diperkirakan akan mengerjakan tugas-tugas logistik yang berulang. Seiring waktu, robot akan mengambil alih tugas perakitan yang lebih kompleks pada akhir dekade ini.
Karena itu, serikat pekerja menuntut adanya negosiasi formal sebelum robot mulai diperkenalkan. Mereka juga meminta perlindungan terhadap pendapatan pekerja seiring meningkatnya otomatisasi serta perpanjangan usia pensiun dari 60 tahun menjadi 65 tahun.
Hyundai bukan satu-satunya produsen otomotif yang berinvestasi besar-besaran pada robot humanoid dan otomatisasi berbasis AI.
Tesla, Mercedes-Benz, BMW, Toyota, Mitsubishi, BYD, Chery, dan sejumlah produsen mobil lainnya juga mengembangkan teknologi serupa. Robot diperkirakan akan semakin umum terlihat di pabrik-pabrik otomotif, mulai dari memindahkan komponen di gudang hingga membantu proses perakitan kendaraan.
Aksi mogok tersebut berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi Hyundai. Korea Selatan masih menjadi pusat utama produksi perusahaan. Sekitar setengah dari total volume kendaraan Hyundai secara global diproduksi di negara tersebut.
Penghentian produksi dalam waktu singkat saja dapat menyebabkan ribuan kendaraan gagal diproduksi dan menghilangkan pendapatan hingga ratusan juta dolar AS.
Meski demikian, manajemen Hyundai tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah.
"Aksi mogok di masa lalu hanya menghasilkan kerugian produksi yang tidak dapat dipulihkan, hilangnya upah, serta kritik keras dari pelanggan dan publik," kata Kepala Produksi Domestik Hyundai Choi Yeong Il dalam sebuah pernyataan.
Ia juga mengatakan Hyundai tidak akan mengganti upah yang hilang akibat aksi mogok tersebut.
Pada akhirnya, jika robot humanoid benar-benar mengambil alih banyak pekerjaan, Hyundai mungkin tidak perlu lagi menghadapi aksi mogok seperti ini. Jalur produksi mungkin tetap bisa berhenti karena pembaruan perangkat lunak.
Namun, setidaknya manajemen Hyundai tidak perlu bernegosiasi dengan barisan robot Atlas yang menuntut bonus lebih besar, kecuali suatu hari nanti robot-robot tersebut benar-benar memiliki kesadaran sendiri.
(fab/fab) Add
source on Google