Penyebab Pikun Sudah Terkuak, Ilmuwan Ungkap Cara Mengatasinya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Sabtu, 18/07/2026 17:15 WIB
Foto: Ilustrasi pelupa atau pikun. (Freepik)

Jakarta, CNBC Inndonesia - Penurunan daya ingat atau pikun sering dianggap sebagai dampak alami dari pertambahan usia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, penyebab utamanya bukan sekadar faktor umur, melainkan adanya perubahan spesifik pada tingkat molekuler di dalam otak.

Tim peneliti dari Virginia Tech menemukan hilangnya memori berkaitan erat dengan proses molekuler tertentu. Temuan ini memberikan harapan baru karena proses tersebut dapat dijadikan target untuk pengembangan terapi kesehatan di masa depan.

Penelitian ini menunjukkan penurunan ingatan terkait dengan perubahan molekuler spesifik yang bisa dipelajari dan ditargetkan," ujar Timothy Jarome, profesor madya di Fakultas Ilmu Hewan, Pertanian dan Ilmu Hayati, dikutip dari ScienceDaily, dikutip Sabtu (18/7/2026).


Ia menjelaskan, memahami pemicu di tingkat molekuler dapat membuka jalan untuk mengetahui penyebab demensia serta mengembangkan pendekatan pengobatan baru.

Penelitian ini menyoroti proses molekuler bernama poliubikuitinasi K63, yang berperan mengatur perilaku protein dalam sel otak.

Jika proses ini berjalan normal, neuron dapat berkomunikasi dengan baik dan memori dapat terbentuk secara optimal.

Namun saat penuaan, di hipokampus (pusat memori), aktivitas meningkat, tapi di amigdala (memori emosional), aktivitas justru menurun. Perubahan ini diduga menjadi salah satu penyebab utama gangguan memori

Para peneliti menggunakan teknologi penyuntingan gen seperti CRISPR untuk mengatur ulang proses tersebut.

Hasilnya, penyesuaian di kedua area otak mampu meningkatkan kinerja memori dan fungsi ingatan menunjukkan perbaikan signifikan.

Dalam studi lain, tim juga meneliti gen IGF2, yang berfungsi dalam pembentukan memori. Gen ini mengalami penurunan fungsi akibat proses metilasi DNA (penambahan penanda kimia yang menonaktifkan gen).

Dengan teknik CRISPR-dCas9, peneliti berhasil mengaktifkan kembali gen tersebut dan meningkatkan memori secara signifikan pada tikus berusia tua.

Peneliti menekankan, intervensi harus dilakukan pada waktu yang tepat. Pada subjek paruh baya yang belum mengalami gangguan memori, efeknya tidak signifikan.

"Ketika gen diaktifkan kembali, performa memori meningkat. Namun waktu intervensi sangat penting-harus dilakukan saat penurunan mulai terjadi," jelas Jarome.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Riset Pasar Pakai AI, Bantu Bisnis Memenangkan "Hati'" Konsumen