Final Piala Dunia 2026

Ahli AI Simulasi Spanyol Vs Argentina 50 Ribu Kali, Juaranya Mutlak

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
17 July 2026 09:57
Lionel Messi merayakan kemenangan usai Argentina memastikan lolos ke final Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Inggris pada laga semifinal di Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). (REUTERS/Dylan Martinez)
Foto: Lionel Messi merayakan kemenangan usai Argentina memastikan lolos ke final Piala Dunia FIFA 2026 setelah mengalahkan Inggris pada laga semifinal di Atlanta Stadium, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, Rabu (15/7/2026). (REUTERS/Dylan Martinez)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Spanyol diprediksi menjadi juara Piala Dunia 2026 menurut kecerdasan buatan (AI) Claude, setelah menjalankan simulasi sebanyak 50.000 kali. Hasilnya, Spanyol paling sering mengangkat trofi dengan Argentina sebagai lawan yang paling mungkin bertemu di final.

Prediksi tersebut berasal dari sistem pemeringkatan dan simulasi yang dibangun menggunakan data historis pertandingan sepak bola internasional. Sistem ini mengolah lebih dari 49.000 pertandingan resmi tim nasional putra sejak 1872, termasuk Piala Dunia, kualifikasi, kejuaraan kontinental, hingga laga persahabatan.

Adalah Divyesh Vekariya, Senior iOS Engineer, membangun sistem tersebut dengan bantuan Claude, mulai dari pengumpulan data, pembuatan sistem peringkat, pengujian model, hingga simulasi turnamen.

"Saya meminta Claude memahami bentuk masalah ini dalam bahasa sederhana, mengumpulkan data historis, membangun sistem peringkat, memvalidasinya, mensimulasikan bagan pertandingan," tulis Vekariya dalam laman Medium, dikutip Jumat (17/7/2026).

"Dan Claude mengerjakan sebagian besar tugas beratnya, menulis pipeline data, menyesuaikan model, menjalankan 50.000 simulasi turnamen, serta menghasilkan grafik-grafik," imbuhnya.

Spanyol dan Argentina Jadi Tim Terkuat

Sistem tersebut menggunakan metode Elo, yakni sistem pemeringkatan yang juga digunakan dalam olahraga seperti catur. Setiap kemenangan akan meningkatkan rating sebuah tim, sementara kekalahan dari tim dengan peringkat lebih rendah dapat membuat rating turun lebih besar.

Sistem juga memperhitungkan sejumlah faktor, seperti seberapa mengejutkan hasil pertandingan, selisih kemenangan, serta pentingnya pertandingan. Laga Piala Dunia, misalnya, memiliki pengaruh jauh lebih besar terhadap rating dibandingkan pertandingan persahabatan.

Hasil pemeringkatan menunjukkan Spanyol dan Argentina berada di atas tim-tim lainnya. Prancis, Inggris, dan Portugal berada di lapisan berikutnya.

Setelah mendapatkan rating, sistem kemudian menggunakan model statistik Poisson untuk memperkirakan jumlah gol yang dapat dicetak masing-masing tim. Model ini memungkinkan sistem menghasilkan probabilitas berbagai skor, bukan sekadar memprediksi pemenang pertandingan.

Model Diuji dengan Tiga Piala Dunia

Sebelum digunakan untuk memprediksi Piala Dunia 2026, model tersebut diuji menggunakan Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022.

Model memprediksi hasil pertandingan dengan benar sebesar 62,5% pada 2014, 54,7% pada 2018, dan 46,9% pada 2022. Secara keseluruhan, model berhasil memprediksi 105 dari 192 pertandingan fase grup dan fase gugur dalam tiga turnamen tersebut, atau sekitar 55%.

Namun, metode sederhana yang hanya memilih tim dengan rating lebih tinggi dan tidak pernah memprediksi hasil imbang justru mencatat akurasi sedikit lebih tinggi, yakni 56,8%.

"Nilai sebenarnya dari model yang lebih lengkap bukan mengalahkan heuristik sederhana dalam tingkat keberhasilan prediksi, melainkan menghasilkan probabilitas yang terkalibrasi untuk setiap kemungkinan skor, yang merupakan satu-satunya cara untuk menjalankan simulasi turnamen sepanjang turnamen," ungkap Vekariya.

Pengujian tersebut juga menunjukkan bahwa prediksi sepak bola sangat sulit. Model gagal memilih juara sebenarnya sebagai favorit utama dalam tiga Piala Dunia terakhir.

Pada 2014, Brasil menjadi tim dengan rating tertinggi sebelum akhirnya kalah 1-7 dari Jerman di semifinal. Pada 2018, Jerman dan Brasil menjadi dua tim teratas, sementara Prancis yang menjadi juara berada di luar lima besar. Pada 2022, Brasil dan Prancis berada di atas Argentina, yang kemudian keluar sebagai juara.

Simulasi 50 Ribu Kali

Untuk Piala Dunia 2026, sistem mensimulasikan sisa 60 pertandingan fase grup, aturan kelolosan dua tim terbaik dari setiap grup, delapan tim peringkat ketiga terbaik, serta seluruh fase gugur dengan 32 tim.

Dari 50.000 simulasi turnamen, Spanyol keluar sebagai tim yang paling sering menjadi juara. Peluangnya setara dengan sekitar satu kemenangan dalam setiap 3,4 simulasi.

Argentina menempati posisi kedua, disusul Prancis. Inggris, Portugal, dan Jerman kemudian membentuk kelompok penantang berikutnya.

Sistem juga memperkirakan Spanyol dan Argentina memiliki peluang besar bertemu di final. Duel Spanyol vs Argentina menjadi pasangan final yang paling sering muncul dalam simulasi, sekitar satu dari setiap 11 simulasi.

"Jika seluruh 50.000 turnamen disatukan, final yang paling sering muncul, terjadi kira-kira dalam satu dari setiap 11 simulasi-adalah Spanyol melawan Argentina," ujarnya.

"Mereka menjadi pasangan final yang paling mungkin terjadi di antara dua tim mana pun, dengan selisih yang cukup jauh dibandingkan final yang paling sering muncul berikutnya, yaitu Inggris melawan Spanyol, yang frekuensinya kurang dari setengahnya," imbuhnya.

Meski demikian, hasil simulasi tersebut bukan sesuatu yang pasti, ya!

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Komdigi Bongkar Modus Baru Judi Online saat Pesta Piala Dunia 2026


Most Popular
Features