Inggris Ikut Aturan Indonesia, Warga Sudah Mulai Rasakan Dampaknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah banyak negara yang menerapkan aturan mirip Indonesia terkait penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Aturan tersebut bertujuan melindungi anak-anak dari konten bahaya yang masih marak beredar di ranah maya.
Australia menjadi negara pertama yang menerapkan aturan tersebut pada Desember 2025. Indonesia kemudian menyusul dengan menegakkan ketentuan PP Tunas melalui aturan turunan Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 yang efektif berlaku sejak 28 Maret 2026.
Selain Indonesia dan Australia, negara-negara lain juga mulai merencanakan atau menguji coba aturan serupa. Misalnya Inggris yang tengah mengetes pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun.
Kendati baru bersifat uji coba, tetapi aturan pembatasan itu disebut sudah membuahkan hasil positif. Menurut studi yang dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026), terdapat peningkatan tidur, konsentrasi, dan kesehatan mental di kalangan remaja Inggris yang mengikuti uji coba atruan pembatasan media sosial tersebut.
Kendati demikian, uji coba pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di Inggris juga memiliki tantangan seperti di negara-negara lain. Para remaja mengatakan pembatasan akses itu dapat diakali melalui VPN dan pernyataan usia palsu.
Studi ini melibatkan 309 rumah tangga yang ditugaskan oleh pemerintah sebelum Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan rencana untuk melarang akses media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun.
Peserta uji coba merupakan anak berusia 13-17 tahun yang ditugaskan untuk menjalani 1-dari-3 jenis intervensi selama sebulan penuh. Pertama, pembatasan akses selama 15 menit per media sosial per hari.
Kemudian, pembatasan akses media sosial dari jam 9 malam sampai jam 7 pagi. Terakhir, penghapusan total aplikasi media sosial dari perangkat elektronik mereka, seperti HP, tablet, maupun laptop.
Semua kelompok usia yang melakukan uji coba melaporkan peningkatan waktu tidur, mood, konsentrasi, waktu belajar, dan interaksi dengan keluarga.
Batasan 15 menit per aplikasi media sosial memiliki tingkat kepatuhan terendah dan sering kali dianggap tidak praktis karena mengganggu percakapan serta komunikasi antar-teman. Banyak peserta yang merasa terisolasi dari teman-teman mereka sepanjang masa uji coba. Pasalnya, Snapchat merupakan wadah utama mereka berkomunikasi dengan teman.
Mereka mengatakan pembatasan harus mempertimbangkan faktor usia dan tingkat kedewasaan, dengan memberikan otonomi yang lebih besar bagi remaja yang lebih tua.
(fab/fab) Add
source on Google