Nasib Miris Raja Teknologi Lama, Tumbang Ditendang Pemain Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perangkat lunak (software) makin tergeser dengan kemunculan teknologi kecerdasan buatan (AI). Hal ini juga dirasakan raksasa teknologi IBM.
IBM mengungkapkan adanya pergeseran prioritas belanja dari software ke infrastruktur pusat data (data center). Sayangnya, raksasa teknologi AS tersebut gagal mengantisipasinya.
"Dalam beberapa minggu terakhir bulan Juni, kami melihat pengeluaran belanja modal triwulan dari pembelian server, penyimpanan, dana memori untuk mengamankan infrastruktur yang terbatas pasokannya jelang kenaikan harga," kata CEO IBM Arvind Krishna, dalam surat kepada investor, dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026).
"Meski kami mengantisipasi sejumlah dampak terkait rantai pasokan, kami tidak bisa mengantisipasi besarnnya perubahan prioritas belanja modal," dia menambahkan.
Krishna juga buka-bukaana kelemahan perusahaan berada pada bisnis mainframe, unit yang menjual komputer dan software berkinerja tinggi.
Selain itu, IBM meramalkan pendapatan hanya meningkat tipis 1% menjadi US$17,2 miliar (Rp 310,8 triliun) pada kuartal dua. Perkiraan ini lebih rendah dibandingkan analis yang sebesar US$17,86 miliar (Rp 322,7 triliun).
Untuk laba per saham, perusahaan memperkirakan US$2,93 dibandingkan ramalan analis sebesar US$3,02.
"Ini adalah momen yang buruk bagi IBM dan saham-saham software. pertanyaan besarnya adalah berapa lama peralihan ke infrastruktur dan keamanan siber ini akan berlangsung," ujar Chris Beauchamp, kepala analis pasar di IG Group.
"Situasi ini mungkin masih bisa ditoleransi untuk beberapa bulan ke depan, namun jika berlanjut lebih lama dari itu, pertanyaan-pertanyaan serius akan kembali muncul terkait saham-saham software," ia menuturkan.
IBM juga diperkirakan akan kehilangan US$70 miliar (Rp 1.265 triliun) dari nilai pasar US$272,78 miliar (Rp 4.929 triliun). Ini terjadi jika kerugian terus terjadi.
Saham raksasa software lain seperti Microsoft, ServiceNow, Salesforce, dan Intuit masing-masing mencatat penurunan antara 2% hingga 5%.
(fab/fab) Add
source on Google