Cari Kerja Makin Susah, 99% Orang Melamar Kerja Ditolak Mentah-Mentah
Jakarta, CNBC Indonesia - Generasi muda menghadapi tantangan yang kian berat. Ketika mendaftar ke universitas-universitas ternama, proses seleksi yang ketat membuat hanya segelintir orang yang bisa masuk. Sisanya terpaksa menunggu tahun berikutnya atau mencoba peruntungan di universitas lain yang lebih sepi peminat dengan peluang masuk lebih tinggi.
Tak cukup sampai di situ, ketika lulus kuliah, persaingan untuk mendapat pekerjaan juga makin susah. Bahkan, untuk diterima kerja di perusahaan yang namanya tak terlalu terkenal juga tak semudah dulu.
Sebuah perusahaan teknologi bernama Bending Spoons yang berasal dari Milan, Italia, mengungkap fakta mengejutkan. Perusahaan ini memang tak populer seperti Apple, Google, atau Facebook. Namun, Bending Spoons merupakan perusahaan yang mengakuisisi berbagai perusahaan dan merek digital kawakan seperti Evernote, WeTransfer, AOL, dan Vimeo.
Bending Spoons mengungkap fakta mengejutkan yang menunjukkan kondisi bursa kerja saat ini. Sepanjang tahun lalu, perusahaan menerima 800.000 aplikasi dari pelamar kerja, namun yang diteruma hanya 286 orang.
Angka itu setara dengan tingkat penerimaan di bawah 0,04 persen. Artinya, lebih dari 99% pelamar ditolak. Sebagai perbandingan, tingkat penerimaan di universitas-universitas kawakan di Amerika Serikat (AS) berada di kisaran 4% atau lebih tinggi dari penerimaan di Bending Spoons.
"Jika orang melihat langsung ke balik layar cara kami menjalankan ini, mereka pasti menganggap kami gila," ujar CEO Luca Ferrari. "Semoga saja dalam artian positif," ujarnya, berdasarkan laporan The Wall Street Journal, dikutip dari MSN, Senin (13/7/2026).
Sebelum mengintip lebih dalam ke balik layar tersebut, ada beberapa hal menarik untuk diketahui tentang Bending Spoons. Seperti dijelaskan di atas, perusahaan teknologi ini berbasis jauh dari Silicon Valley, yakni di Milan, Italia.
Strategi Tak Biasa Perusahaan Tak Terkenal
Perusahaan didirikan pada 2013 silam, dan namanya terinspirasi dari film 'The Matrix'. Meski terhitung perusahaan baru, tetapi Bending Spoons justru beroperasi menyerupai konglomerat dari pertengahan abad 20-an.
Sebelum melantai di bursa saham pekan lalu, Bending Spoons menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan lama di balik software yang mungkin sudah terlupakan, tetapi masih digunakan jutaan orang setiap hari, seperti AOL, Evernote, dan Vimeo.
Perusahaan ini membeli entitas-entitas tersebut untuk merombak dan mempertahankannya, bukan untuk sekadar menjualnya kembali demi keuntungan cepat. Setelah itu, mereka menginvestasikan kembali laba yang diperoleh untuk mengakuisisi lebih banyak perusahaan lagi.
Namun, pendekatan mereka tidak hanya cermat dalam hal pemilihan perusahaan yang diakuisisi. Ternyata, Bending Spoons menerapkan standar yang jauh lebih ketat dalam merekrut karyawan.
Ramai Diserbu Pelamar Kerja
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pelamar yang ingin bekerja di perusahaan yang terus berkembang pesat ini melonjak drastis, dari mulai 110.000 menjadi 360.000, lalu mencapai 800.000 pelamar.
Tahun lalu, sebanyak 60.000 pelamar berhasil lolos tahap penyaringan awal dan mengikuti serangkaian tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan penalaran, pengambilan keputusan, dan kecepatan belajar mereka. Proses ini menyaring jumlah pelamar hingga tersisa 3.300 kandidat yang kemudian dipanggil untuk wawancara.
"Wawancara kerja yang biasa-biasa saja hampir tidak memiliki nilai prediksi, hasilnya seperti melempar koin," ujar Ferrari. "Pada dasarnya, metode itu sama sekali tidak berguna," ia menuturkan.
Agar proses tersebut menjadi bermanfaat, Bending Spoons menerapkan pendekatan yang lebih ilmiah. Pertanyaan-pertanyaan disusun dengan sangat presisi. Jawaban dinilai secara cermat berdasarkan parameter yang telah ditetapkan.
Bahkan faktor-faktor yang bersifat kualitatif pun dikuantifikasi dan dimasukkan ke dalam algoritma perekrutan. Setelah nilai keluar, referensi diperiksa, keputusan ditinjau ulang, dan tawaran kerja diajukan, jumlah kandidat yang tersisa tinggal sangat sedikit.
Tahun lalu, hanya 286 orang yang berhasil bertahan hingga tahap akhir dan menyandang gelar "Spooners".
Lebih Susah daripada Kerja di NASA dan Kuliah di Harvard
Angka ini sungguh mencengangkan. Bank dan firma konsultan paling kompetitif sekalipun kerap membanggakan tingkat penerimaan karyawan sebesar 1%.
Citadel dan Citadel Securities menerima 0,36% dari para ahli kuantitatif yang melamar magang musim panas lalu. NASA menerima 0,1% dari mereka yang ingin menjadi astronaut. Namun, bagaimana dengan angka 0,04%? Artinya, mendapatkan pekerjaan di Bending Spoons 100 kali lebih sulit daripada diterima di Harvard.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]