Kasus Keracunan Obat Kurus Melonjak, Ribuan Orang Sudah Jadi Korban

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 15:10 WIB
Foto: Ozempic domz. (Ist Tangkapan Layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konsumsi semaglutide yang ditemukan dalam obat Ozempic dan Wegovy 'meledak' setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperluas izin penggunaannya untuk manajemen berat badan pada 2021. Mulanya, semaglutide yang merupakan obat golongan Glucagon-Like Peptide-1 Receptor Agonists (GLP-1RAs) itu merupakan obat resep untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes 2.

Sebagai informasi, GLP-1RAs bekerja dengan menstimulasi produksi insulin, menekan pelepasan glukagon, dan memperlambat pengosongan lambung. Intinya, GLP-1RAs meniru hormon alami untuk mengatur gula darah dan nafsu makan, sehingga sangat efektif untuk mengontrol diabetes tipe 2 dan menurunkan berat badan.


Seiring popularitasnya yang membludak dan banyak orang mengonsumsi Ozempic atau Wegovy, pusat-pusat pengendalian racun juga mulai menerima laporan yang meningkat terkait kasus keracunan. Semaglutide menjadi faktor penyebab terbesar di antara obat-obat lainnya.

Peneliti dari University of Texas (UT) San Antonio, Jordan Miller, mencari tahu apakah peningkatan kasus keracunan ini berkaitan langsung dengan perizinan FDA yang diperluas untuk penggunaan semaglutide, sebab momentumnya sangat pas.

"Kami menduga lonjakan tajam dalam volume laporan kasus keracunan disebabkan penyalahgunaan dan penanganan yang keliru terhadap obat ini [Ozempic dan Wegovy], serta kemungkinan berkaitan dengan persetujuan FDA atas penggunaan obat ini untuk pengendalian berat badan," kata David Han, mentor penelitian Miller sekaligus Romo Endowed Professor di Departemen Statistik & Sains Data UT San Antonio, dikutip dari ScienceDaily, Kamis (9/7/2026).

Sebelum 2021, pusat pengendalian racun di seluruh AS biasanya menangani 1.000-1.500 kasus keracunan terkait GLP-1RAs setiap tahunnya. Setelah pertengahan 2021 ketika FDA menyetujui penggunaan GLP-1RAs untuk membasmi obesitas, angka itu melonjak hampir dua kali lipat. Pada 2023, pusat pengendalian racun di AS mencatat ada 8.000 telepon terkait keracunan GLP-1RAs.

Meskipun sebagian besar insiden melibatkan kesalahan dosis yang tidak disengaja atau kekeliruan dalam penggunaan terapeutik, besarnya peningkatan kasus keracunan tersebut mengejutkan tim peneliti.

"Dalam data yang melacak peningkatan berdasarkan jenis obat tertentu, saya tidak menyangka semaglutide akan begitu sangat mendominasi," kata Miller.

"Saya memang menduga obat itu akan menempati urutan teratas, namun angkanya sungguh mencengangkan. Di sisi lain, hal ini masuk akal mengingat besarnya sorotan media," ia menambahkan.

Han mengatakan bahwa proyek ini menunjukkan bagaimana ilmu data dapat mengungkap tren kesehatan masyarakat yang bermakna, alih-alih sekadar menghasilkan statistik.

Analisis tim peneliti menunjukkan bahwa persetujuan FDA atas semaglutide untuk pengelolaan berat badan menandai titik balik yang nyata. Baik jumlah maupun jenis panggilan ke pusat pengendalian keracunan berubah secara signifikan setelah adanya persetujuan tersebut.

Hal ini mencerminkan meluasnya penggunaan semaglutide dengan cepat, yang semula ditujukan bagi penderita diabetes kini merambah ke populasi jauh lebih luas yang ingin menurunkan berat badan.

"Situasinya sangat berbeda antara saat obat GLP-1[RAs] dipasarkan untuk pasien diabetes dan saat obat tersebut digunakan untuk pengelolaan berat badan," jelas Han.

"Oleh karena itu, kami perlu mengukur bukti ini untuk menunjukkan bahwa fenomena tersebut bermula dari persetujuan FDA, serta menentukan cara meminimalkan risikonya. Kita perlu memberikan edukasi yang lebih baik kepada masyarakat karena cara kerja obat ini di dalam tubuh serta profil keamanan jangka panjangnya belum sepenuhnya dipahami," ia menuturkan.

Penyebab Pengguna Ozempic-Wegovy Keracunan

Para peneliti menemukan bahwa banyak kasus yang ditangani oleh pusat layanan informasi keracunan sebenarnya dapat dihindari melalui edukasi pasien yang lebih baik. Semaglutide dirancang untuk disuntikkan seminggu sekali, bukan setiap hari. Pasien juga memulai pengobatan dengan dosis rendah yang kemudian ditingkatkan secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Data menunjukkan bahwa dua kesalahan yang paling umum terjadi adalah mengonsumsi obat setiap hari alih-alih seminggu sekali, serta langsung memulai dengan dosis tertinggi dan bukannya mengikuti jadwal peningkatan dosis bertahap yang disarankan.

"Coba bayangkan, sesuatu yang seharusnya dilakukan secara bertahap, tetapi malah dilakukan secara besar-besaran dan tujuh kali lebih sering dari yang seharusnya?" kata Jordan Miller.

Menurut Miller dan Han, peningkatan edukasi di setiap tahapan proses peresepan, dari ruang praktik dokter hingga konter apotek, dapat membantu mencegah banyak kesalahan pengobatan ini.

Penelitian ini ditampilkan sebagai berita utama di Significance, majalah unggulan dari Royal Statistical Society dan American Statistical Association. Temuan tersebut juga dipublikasikan di Journal of Medical Toxicology, jurnal resmi American College of Medical Toxicology. CNBC Indonesia mengutip laporan ini dari Science Daily.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Potensi Tokenisasi Aset Jadi Investasi Digital Masa Depan