Fenomena Operasi Ganti Warna Mata, Ahli Beberkan Fakta di Baliknya

Redaksi,  CNBC Indonesia
29 June 2026 08:10
Ilustrasi mata. (Istimewa) Tren baru operasi mengubah warna iris mata muncul.
Foto: Ilustrasi mata. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Cara mengubah penampilan kini makin beragam. Salah satu tren yang mulai mencuri perhatian adalah prosedur bedah untuk mengubah warna mata secara permanen. Teknik yang disebut Femtosecond Laser-Assisted Annular Keratopigmentation atau FLAAK diklaim mampu mengubah warna iris menjadi biru, emas, hijau, atau pilihan warna lain sesuai keinginan.

Namun, di balik hasil estetika yang ditawarkan, para ahli kesehatan mata mengeluarkan peringatan keras soal risiko jangka panjangnya.

Teknik FLAAK dikembangkan lebih dari satu dekade lalu oleh dokter spesialis mata asal Prancis bernama Francis Ferrari. Ia mulai membuka layanan prosedur ini secara komersial sejak tahun 2019.

Cara kerjanya dimulai dengan pemberian obat bius pada bola mata. Selanjutnya, sinar laser femtosekon digunakan untuk membuat saluran kecil di bagian kornea. Saluran itu kemudian diperlebar dan diisi dengan pigmen khusus menggunakan alat bedah rancangan sendiri. Pigmen tersebut akan menutupi warna asli iris sehingga menciptakan tampilan warna mata yang baru.

Meskipun diklaim aman oleh penemunya, prosedur ini belum mendapatkan persetujuan resmi dari lembaga pengawas kesehatan AS. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA belum menyetujui penggunaannya untuk keperluan kosmetik. Sementara itu, Akademi Oftalmologi Amerika atau AAO telah mengeluarkan dua kali peringatan resmi terkait keamanan teknik ini.

Amita Vadada, dokter spesialis mata dan juru bicara klinis AAO, menyampaikan kekhawatiran utama. Hingga saat ini belum ada data penelitian jangka panjang yang cukup untuk memastikan dampak prosedur maupun pigmen yang digunakan terhadap kesehatan mata. Mata adalah organ yang sangat peka secara imunologis. Bahkan peradangan ringan sekalipun bisa menimbulkan efek serius.

"Berbeda dengan bagian tubuh lain, peradangan ringan pada mata bisa menyebabkan scar tissue atau bekas luka permanen, rasa sakit, dan kepekaan berlebih terhadap cahaya. Prosedur ini berpotensi mengubah fungsi dasar mata yang seharusnya bekerja secara alami," ujar Vadada seperti dikutip dari laporan New York Times dan Futurism.

Proses ini juga sering disebut sebagai tato kornea. Kornea sendiri berperan sebagai lapisan pelindung utama sekaligus lensa terluar mata. Setiap intervensi pada bagian ini berisiko merusak struktur alami yang menjaga kualitas penglihatan. Komplikasi yang mungkin muncul meliputi infeksi, pergeseran pigmen, pembengkakan jaringan, hingga penurunan ketajaman penglihatan yang tidak bisa dipulihkan.

Pihak pengembang berpendapat bahwa teknik ini aman dan setara dengan prosedur LASIK. Ferrari menyebutkan bahwa ada pasien yang merasa tertekan secara psikologis dengan warna mata alami mereka.

Meskipun demikian, komunitas medis tetap menekankan prinsip kehati-hatian. Tanpa bukti keamanan yang teruji dalam jangka panjang, risiko kerusakan penglihatan dianggap lebih besar dibandingkan manfaat estetika yang didapat.

Di Indonesia sendiri, prosedur serupa juga belum memiliki izin resmi untuk keperluan kosmetik. Pemerintah dan lembaga kesehatan menyarankan agar masyarakat lebih waspada terhadap tren yang menawarkan perubahan fisik secara permanen melalui operasi. Sebagai alternatif yang lebih aman, para ahli menyarankan penggunaan lensa kontak berwarna yang sudah terdaftar dan memenuhi standar kesehatan. Cara ini memberikan pilihan tampilan sementara tanpa mengubah struktur alami mata secara kekal.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Skandal Obat Kurus Seret Presiden, Wakil Rakyat Ngamuk ke Menkes


Most Popular
Features