Internasional

Petaka Baru Hantam Bank-Bank, Pemerintah Kasih Waktu 4 Bulan

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 11:20 WIB
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Petaka baru menghantam industri perbankan di Eropa. Otoritas pengawas perbankan memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru atau 'frontier AI' dapat memicu risiko siber sistemik terhadap sektor keuangan.

Dampaknya, sekitar 110 bank dilaporkan hanya memiliki waktu hingga akhir Oktober 2026 atau sekitar empat bulan untuk menyusun rencana aksi menghadapi ancaman tersebut.


Laporan Financial Times pada 7 Juli 2026 menyebutkan pengawas perbankan Eropa telah mengirimkan surat kepada 110 bank agar menyiapkan rencana aksi komprehensif terkait ancaman siber yang dipicu AI.

Rencana tersebut diminta mencakup pengendalian, sumber daya, pembagian peran dan tanggung jawab, serta jadwal implementasi dalam menghadapi serangan siber berbasis AI.

Langkah tersebut menandai perubahan pendekatan regulator terhadap AI. Jika sebelumnya fokus utama berada pada tata kelola penggunaan AI kini perhatian bergeser ke ketahanan siber sebagai bagian dari stabilitas sistem keuangan.

Peringatan itu juga sejalan dengan pandangan European Systemic Risk Board (ESRB). Dalam dokumen yang dirilis pada 2 Juli 2026, lembaga tersebut menyatakan kemampuan terbaru frontier AI telah menciptakan peningkatan struktural terhadap risiko siber sistemik di sistem keuangan Uni Eropa.

Menurut ESRB, model AI canggih mampu mempercepat proses pencarian celah keamanan, menggabungkan berbagai kerentanan, hingga melakukan reverse engineering terhadap pembaruan keamanan. Kemampuan tersebut dinilai dapat membantu pelaku kejahatan siber melancarkan serangan dengan lebih cepat dan lebih efektif.

Senada dengan itu, anggota Dewan Pengawas European Central Bank (ECB), Claudia Buch, dalam pidatonya pada 3 Juni lalu mengungkapkan lebih dari 85% bank besar yang berada di bawah pengawasan ECB sudah menggunakan AI dalam operasionalnya.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa model AI canggih dapat memangkas biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk menemukan, menggabungkan, dan mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak. Kondisi ini membuat bank harus mampu meningkatkan kecepatan respons terhadap ancaman yang terus berkembang.

Bagi industri perbankan, tantangan terbesar bukan hanya mengatur penggunaan AI, melainkan membuktikan bahwa proses penanganan kerentanan keamanan dapat berjalan secepat kemampuan AI yang dimanfaatkan pelaku serangan.

Artinya, bank perlu mempercepat proses penutupan celah keamanan (patching), memiliki peta ketergantungan terhadap sistem dan penyedia pihak ketiga yang lebih jelas, serta menyusun simulasi penanganan insiden dengan asumsi penyerang juga memanfaatkan AI.

Perubahan ini juga mendorong isu AI semakin dekat dengan aspek rekayasa keamanan, inventarisasi aset digital, manajemen ketergantungan sistem, hingga pengawasan di tingkat dewan direksi.

Batas waktu pengumpulan rencana aksi pada akhir Oktober mendatang akan menjadi indikator apakah regulator akan menerapkan standar pengendalian yang seragam bagi seluruh bank atau memberikan langkah perbaikan khusus bagi lembaga yang dinilai masih memiliki kelemahan.

Pendekatan tersebut juga berpotensi menjadi acuan bagi sektor-sektor lain yang diatur secara ketat dalam mengklasifikasikan risiko siber akibat frontier AI sebagai bagian dari pengujian ketahanan operasional di masa depan.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data