BRIN Buka-Bukaan Kondisi Sebenarnya di Orbit Bumi, RI Harus Bertindak
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyebutkan tantangan baru yang dihadapi dunia antariksa saat ini, mengenai operasional satelit di Low Earth Orbit (Orbit Rendah Bumi). Menurutnya jumlah satelit yang beroperasi di sana sudah terlalu padat.
"Pemadatan orbit meningkatkan risiko penumpukan sampah antariksa, serta kompetisi pemanfaatan slot orbit, dan spektrum frekuensi," kata Arif dalam acara Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia, di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Seperti diketahui, LEO dihuni sejumlah penyedia layanan internet berbasis satelit. Ruang orbit itu didominasi oleh Starlink milik Elon Musk, serta beberapa pemain lain yang mencoba peruntungan di sana.
Lebih lanjut Arif mengatakan tata kelola infrastruktur internasional masih menerapkan first come dan first serve. Jadi penggunaan slot orbit bisa dimiliki oleh industri yang lebih dulu memanfaatkannya.
Untuk itu, dia meminta Indonesia perlu segera menyusun peta jalan nasional pengelolaan slot orbit dan spektrum. Termasuk terkait strategi pengembangan konstelasi satelit nasional, pelindungan aset satelit Indonesia, penguatan diplomasi internasional, dan kebijakan yang menjamin pengoperasian satelit nasional.
"Langkah ini menjadi sangat penting agar kepentingan nasional Indonesia tetap terlindungi di tengah persaingan global yang makin dinamis," kata Arif.
Dalam kesempatan yang sama, BRIN juga mengungkapkan akan meluncurkan satelit observasi Bumi, Nusantara Observation-1 (NEO-1) pada Januari 2027. Satelit ini menjadi tonggak penting untuk kemandirian teknologi Indonesia.
NEO-1 adalah minisatelit yang dirancang dan didesain hingga operasi satelit dilakukan di Indonesia. Satelit menggunakan Automatic Identification System (AIS), yakni bertugas untuk memantau aktivitas kapal, sensor optik pada spektrum cahaya tampak, dan thermal infrared.
"Peluncuran NEO 1 ini bukanlah tujuan akhir melainkan bagian dari re-generasi dan satelit sebelumnya awal dari perjalanan besar menuju kemandirian antariksa Indonesia," ungkapnya.
Peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia
Tahun ini diperingati sebagai 50 tahun setelah Satelit Palapa A1 diluncurkan 1976. Peluncuran itu juga mengukir sejarah sebagai negara ketiga di dunia yang memiliki dan mengoperasikan satelit komunikasi secara domestik, setelah Amerika Serikat (AS) dan Kanada.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Wayan Toni Supriyanto mengatakan kehadiran satelit sangat dibutuhkan untuk daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Dalam peringatan 50 tahun, Indonesia diharapkan bisa lebih mandiri dalam bidang satelit.
Sebab penguasaan infrastruktur satelit bisa menguasai ketahanan informasi dan komunikasi di masa depan.
"Momentum 50 tahun satelit Indonesia ini harus kita jadikan titik tolak terbaru bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu tetapi memastikan semangat untuk berdiri di kaki sendiri dalam bidang satelit," ucapnya.
Sementara itu, Adi Rahman Adiwoso selaku ketua umum Asosiasi Antariksa Indonesia (Ariksa) juga menekankan soal kemandirian dan membutuhkan adanya aturan mengenai ruang angkasa. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen melainkan juga produsen.
"Kita harus memiliki sebuah infrastruktur regulatory yang mendukung kebutuhan kemandirian sebagai prosedur dan produsen dan tidak hanya menjadi konsumen," jelasnya.
(fab/fab) Add
source on Google