OpenAI-Anthropic Terancam, Ada Pesaing Ngeri & Lebih Murah dari China

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Sabtu, 04/07/2026 14:30 WIB
Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Jakarta, CNBC Indonesia - Model kecerdasan buatan (AI) asal China bernama GLM-5.2 mulai menarik perhatian perusahaan dan pengembang teknologi di Barat. Model yang dikembangkan startup Beijing Z.ai tersebut dinilai mampu menawarkan kemampuan yang mendekati produk unggulan OpenAI dan Anthropic dengan biaya yang jauh lebih murah.

Selama ini, pengguna global umumnya dihadapkan pada pilihan antara model AI China yang murah namun kurang mumpuni atau model buatan perusahaan Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic yang memiliki kemampuan lebih tinggi tetapi membutuhkan biaya besar. Kehadiran GLM-5.2 disebut mulai mengubah peta persaingan tersebut.

Model yang diluncurkan bulan lalu itu ramai diperbincangkan di Silicon Valley berkat kemampuan coding dan agentic AI-nya, yakni kemampuan menyelesaikan tugas kompleks dengan instruksi minimal. Sejumlah pengamat bahkan menyebut kemunculannya sebagai "mini DeepSeek moment" karena dinilai berpotensi mengguncang industri AI global.


Popularitas GLM-5.2 meningkat pesat di berbagai platform pengembang AI pihak ketiga seperti OpenRouter. Model tersebut kini tercatat memiliki tingkat penggunaan yang melampaui sejumlah model milik Anthropic, sementara sejumlah tokoh industri teknologi mulai memberikan pujian terhadap performanya.

CEO platform cloud data Snowflake, Sridhar Ramaswamy, hingga investor teknologi Marc Andreessen termasuk di antara pihak yang menyoroti kemampuan model tersebut. Mantan penasihat AI Presiden Amerika Serikat Donald Trump, David Sacks, bahkan menyebut GLM-5.2 sudah setara dengan model-model terbaik OpenAI dan Anthropic yang saat ini tersedia.

Menurut Sacks, performa GLM-5.2 hanya sedikit berada di bawah Claude Opus 4.8 milik Anthropic dan sudah berada di level yang sama dengan GPT-5.5 dari OpenAI. Ia menilai Amerika Serikat tidak boleh mengambil kebijakan yang berpotensi memperlambat perkembangan perusahaan AI domestiknya di tengah ketatnya persaingan dengan China.

Sejumlah analis menilai meningkatnya minat terhadap GLM-5.2 juga dipicu oleh pembatasan tertentu terhadap model AI Amerika serta tertundanya peluncuran publik GPT-5.6. Kondisi tersebut mendorong pengembang global mencari alternatif yang lebih terbuka dan lebih terjangkau.

Pendiri dan CEO Concordia AI, Brian Tse, mengatakan komunitas pengembang internasional semakin menyadari risiko ketergantungan pada model proprietary berbasis API dari perusahaan Amerika. Menurutnya, banyak pengembang mulai mempertimbangkan model open-source sebagai opsi yang lebih fleksibel.

Selain performa yang kompetitif, biaya operasional GLM-5.2 menjadi daya tarik utama. Model tersebut saat ini menempati posisi kelima dalam papan peringkat kecerdasan model bahasa besar milik Artificial Analysis dan posisi kedua dalam peringkat coding front-end Code Arena, dengan biaya penggunaan hanya sekitar seperenam dari model-model AI premium Amerika seperti Claude dan GPT.

Pendiri Z.ai, Tang Jie, sebelumnya menyatakan perusahaannya menargetkan mampu menghadirkan model yang setara dengan model terbaru Anthropic sebelum kuartal pertama tahun depan. Namun perusahaan belum mengungkapkan berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan GLM-5.2.

Meski demikian, adopsi skala besar oleh perusahaan-perusahaan Amerika masih menghadapi tantangan besar terkait keamanan data. Kekhawatiran tersebut terutama muncul di sektor yang sangat diatur seperti perbankan dan keamanan siber yang cenderung berhati-hati dalam menggunakan teknologi asal China.

Analis AI Counterpoint Research, Wei Sun, mengatakan sebagian perusahaan di Eropa dan Amerika Serikat masih enggan memasukkan model AI China ke dalam infrastruktur teknologi mereka. Menurutnya, sejumlah klien dan regulator kemungkinan tetap menolak penggunaan model China terlepas dari performa maupun efisiensi biayanya.

Laporan lembaga riset RAND sebelumnya menunjukkan pangsa pasar global model bahasa besar asal China melonjak dari 3% menjadi 13% dalam dua bulan setelah peluncuran model R1 milik DeepSeek pada Januari tahun lalu. Peningkatan penggunaan tersebut paling banyak terjadi di negara-negara berkembang dan negara yang memiliki hubungan ekonomi maupun politik yang erat dengan Beijing.

Meski perusahaan besar cenderung bergerak lambat, sejumlah pakar menilai startup dan usaha kecil menengah lebih cepat mengadopsi model-model AI China. Menurut analis teknologi China sekaligus pendiri Hello China Tech, Poe Zhao, para pengembang umumnya lebih memprioritaskan performa, biaya, dan kemudahan akses dibandingkan asal negara pengembang model AI tersebut.

Ia memperkirakan adopsi GLM-5.2 tidak akan langsung menggantikan OpenAI atau Anthropic secara penuh. Namun, model tersebut berpotensi menjadi alternatif penting dalam ekosistem AI global, terutama bagi komunitas pengembang yang mencari solusi berbiaya rendah dengan kemampuan mendekati model-model terdepan dunia.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data