Amerika Mulai 'Tenggelam', Ramai-Ramai Beralih ke China

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 03/07/2026 15:30 WIB
Foto: REUTERS/FLORENCE LO

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menghadapi kompetisi yang makin sengit dengan China di sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI). Sejak kemunculan DeepSeek pada awal tahun lalu yang mengguncang Silicon Valley, konsumen global dihadapkan pada dua pilihan sulit.

Di satu sisi, teknologi AI dari AS masih menjadi yang paling canggih, terlebih ketika pemerintahan Donald Trump terus memberlakukan kebijakan protektif untuk menghambat kemajuan teknologi China melalui pemblokiran akses chip dan alat pembuat chip tercanggih.


Namun, di sisi lain, teknologi AI dari China yang relatif lebih murah menjadi 'menarik' bagi konsumen, meskipun kecanggihannya masih tertinggal dari AS.

Namun, dilema tersebut pelan-pelan mulai bergeser. China terus-menerus mengejar ketertinggalannya dan makin dekat untuk menyamai kecanggihan AI dari AS. Model AI terbaru asal China yang dinamai 'GLM-5.2' baru saja diluncurkan startup berbasis Beijing, Zai.

Model ini digadang-gadang makin menutup ketimbangan dengan teknologi AI buatan Barat. GLM-5.2 membuat Silicon Valley heboh berkat kemampuan pengkodean dan agennya, yakni kemampuan menjalankan tugas kompleks dengan instruksi minimal.

Dua kemampuan krusial itu dikatakan hampir menyaingi produk unggulan AS, tetapi dengan biaya jauh lebih rendah. Sebagian pakar menyebut fenomena ini sebagai 'momen mini DeepSeek', dikutip dari Reuters, Jumat (3/7/2026).

Ramai-Ramai Serbu AI Buatan China

Model GLM-5.2 dengan cepat merangkak naik dalam daftar penggunaan di platform-platform pengembang AI pihak ketiga seperti OpenRouter. Saat ini, GLM-5.2 sudah berada pada urutan di atas model-model dari Anthropic asal AS.

Beberapa petinggi platform data cloud, seperti CEO Snowflake Sridhar Ramaswamy, hingga pemodal ventura kawakan Mark Andreessen, mengakui kemampuan GLM-5.2 yang mumpuni.

"Saat ini kita melihat model AI China yang tersedia di pasaran sudah sama bagusnya dengan model-model dari OpenAI dan Anthropic," kata David Sacks, mantan kepala AI Gedung Putih, pada pekan lalu sebelum Washington mencabut pemblokiran model Fable dan Mythos tercanggih dari Anthropic.

Kemampuan tersebut menempatkan model GLM-5.2 milik Z.ai di pusat perdebatan yang kian berkembang mengenai apakah China akhirnya mulai mengejar AS dalam perlombaan AI, di tengah peringatan para petinggi industri teknologi bahwa regulasi industri yang tidak dapat diprediksi dari Washington berisiko menghambat keunggulan AS dalam teknologi mutakhir ini.

"Performanya [GLM-5.2) hanya sedikit di bawah Opus 4.8 (dari Anthropic) dan setara dengan GPT 5.5 (dari OpenAI)," ujar Sacks. Ia menekankan bahwa AS tidak bisa terus-terusan membiarkan hal-hal yang memperlambat laju perusahaan teknologi kawakan.

Menurut sejumlah pakar, pembatasan yang diterapkan Anthropic serta penundaan peluncuran publik model GPT-5.6 terbaru dari OpenAI telah memicu permintaan global terhadap model buatan China.

"Komunitas pengembang internasional makin menyadari bahwa ketergantungan semata pada model API tertutup (closed-source) yang berbasis di AS mengandung risiko signifikan," kata Brian Tse, pendiri sekaligus CEO Concordia AI, sebuah perusahaan konsultan yang berbasis di Beijing dan berfokus pada aspek keamanan AI.

Sambutan positif dunia internasional terhadap GLM-5.2 juga mengindikasikan meningkatnya minat terhadap pengembangan sumber terbuka (open-source) yang lebih hemat biaya. Solusi yang dihadirkan industri teknologi China menjawab persoalan nyata, karena dunia bisnis mulai terbebani oleh biaya penggunaan AI yang terus meningkat dan sering kali sulit diprediksi.

Pasalnya, tool AI agentik dengan kode tertutup (closed-source) cenderung mengonsumsi lebih banyak token, yakni satuan yang digunakan untuk mengukur penggunaan AI.

Z.ai yang juga dikenal sebagai Zhipu AI, menolak berkomentar. Anthropic dan OpenAI tidak segera menanggapi permintaan komentar.

GLM-5.2 saat ini menempati peringkat kelima dalam papan peringkat kecerdasan model bahasa besar (LLM) milik Artificial Analysis, yang menilai kinerja berdasarkan berbagai tolok ukur untuk mengukur kemampuan menyeluruh, termasuk keterampilan penalaran dan pemrograman.

Model ini juga berada di posisi kedua dalam peringkat pemrograman Code Arena, yang mengukur kemampuan model dalam membuat situs web dan aplikasi. Padahal, GLM-5.2 beroperasi dengan biaya sekitar seperenam dari biaya model kawakan closed-source asal AS seperti Claude dan seri GPT.

Z.ai belum mengungkapkan secara detail berapa besarnya biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan GLM-5.2.

Dalam tanggapan kepada Elon Musk di platform X bulan lalu, pendiri Z.ai, Tang Jie, menyatakan bahwa startup asal China tersebut dapat menghasilkan model yang setara dengan Fable buatan Anthropic sebelum kuartal pertama tahun depan.

"Perubahan yang dihadirkan GLM-5.2 adalah bahwa model sumber terbuka kini menjadi produk yang siap pakai dan dapat langsung digunakan (plug-and-play)," ujar Tiezhen Wang, mantan pimpinan wilayah APAC di Hugging Face, sebuah perusahaan rintisan yang menjadi wadah bagi para pengembang yang bereksperimen dengan model sumber terbuka.

"Anda cukup menerapkan model tersebut dan, tanpa perlu melakukan sistem penyesuaian halus (fine-tuning) yang rumit, model itu sudah dalam kondisi sangat fungsional dan siap digunakan. Hal ini secara drastis menurunkan hambatan masuk bagi adopsi model sumber terbuka," ia menuturkan.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas