Kekuasaan Amerika Segera Berakhir, China Penguasa Baru di Wilayah Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan dalam eksplorasi antariksa memasuki babak baru. Saat ini, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) masih menjadi laboratorium antariksa terbesar di orbit Bumi yang melibatkan banyak negara.
Sementara itu, Tiangong adalah stasiun milik China yang berukuran lebih kecil, lebih baru, dan sepenuhnya dikendalikan oleh negara tersebut.
Meski demikian, keberadaan kedua stasiun antariksa tersebut mulai berubah. Jika ISS benar-benar mengakhiri masa operasionalnya sekitar 2030 dan belum ada stasiun komersial pengganti yang siap menampung awak, Tiangong berpotensi menjadi satu-satunya stasiun antariksa berawak yang beroperasi secara permanen di orbit Bumi.
Skenario tersebut bukan berarti pasti terjadi. Kondisi ini muncul karena dua garis waktu yang kini berjalan hampir bersamaan, yakni rencana pensiun ISS dan transisi menuju stasiun antariksa komersial di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO) yang hingga kini masih belum rampung.
Selama ini, banyak yang menyederhanakan kisah lahirnya Tiangong dengan menyebut China membangun stasiun antariksa sendiri karena dikeluarkan dari program ISS. Namun, faktanya lebih kompleks.
Mengutip Science Daily, China sebenarnya tidak pernah menjadi mitra resmi ISS.
Amerika Serikat menolak China terlibat bahkan sudah muncul jauh sebelum 2011. Situasi itu kemudian semakin mengeras setelah pemerintah AS mengesahkan Wolf Amendment pada tahun tersebut.
Aturan yang tercantum dalam Public Law 112-10, Section 1340, sebagai bagian dari Department of Defense and Full-Year Continuing Appropriations Act 2011, melarang NASA dan White House Office of Science and Technology Policy menggunakan anggaran untuk mengembangkan atau menjalankan program bilateral dengan China maupun perusahaan milik China, kecuali mendapat izin khusus melalui undang-undang lain.
Aturan tersebut juga membatasi penerimaan kunjungan resmi delegasi China ke fasilitas NASA. Meski tidak melarang seluruh bentuk komunikasi, kebijakan itu membuat kerja sama antarlembaga antariksa AS dan China menjadi persoalan hukum sekaligus politik.
Bagi program sebesar ISS, kebijakan tersebut memiliki dampak besar karena NASA merupakan mitra utama dalam proyek yang seluruh komponennya saling terintegrasi.
Kemitraan ISS sendiri sejak awal memang tidak hanya didasarkan pada aspek teknis, tetapi juga kepentingan politik. Dalam pengumuman NASA pada 2024 mengenai kendaraan deorbit ISS, stasiun itu disebut dioperasikan oleh lima lembaga, yakni NASA, Roscosmos, ESA, JAXA, dan Canadian Space Agency. China berada di luar struktur tersebut.
Wolf Amendment memang bukan satu-satunya alasan di balik pembangunan Tiangong. Namun, aturan itu menutup peluang realistis dalam jangka pendek bagi program penerbangan antariksa berawak China untuk bergabung dengan kerangka kerja ISS.
Sementara itu, Tiangong kini bukan lagi sekadar rencana. Stasiun antariksa tersebut telah beroperasi penuh.
China meluncurkan modul inti Tianhe pada 2021, kemudian disusul modul laboratorium Wentian dan Mengtian pada 2022. Sejak periode pergantian awak antara misi Shenzhou 14 dan Shenzhou 15, China mulai mengoperasikan Tiangong sebagai stasiun antariksa yang dihuni secara terus-menerus, bukan lagi laboratorium orbit untuk misi jangka pendek.
Keberlanjutan operasional inilah yang menjadi nilai utama Tiangong. Meski ukurannya jauh lebih kecil dibanding ISS, stasiun tersebut memiliki sistem rotasi awak yang rutin, dukungan logistik melalui wahana kargo Tianzhou, serta sistem transportasi awak Shenzhou yang terus digunakan dalam berbagai misi.
Berdasarkan laporan Space.com, China juga mengirimkan awak Shenzhou 23 ke Tiangong pada 24 Mei 2026 sebagai bagian dari rotasi reguler awak stasiun antariksa tersebut.
Tiangong juga sempat menghadapi ujian besar sepanjang 2025 hingga 2026 ketika gangguan pada wahana antariksa untuk kepulangan awak memaksa China menyesuaikan jadwal rotasi serta rencana penyelamatan.
Meski proses pengambilan keputusan misi China tidak se-transparan operasi NASA yang terbuka untuk publik, satu hal terlihat jelas, yakni Tiangong tetap mampu beroperasi di tengah kondisi darurat yang cukup serius.
Hal itu membuat Tiangong tidak lagi sekadar simbol pencapaian atau misi untuk menunjukkan prestise nasional. Kini, stasiun antariksa tersebut telah berkembang menjadi infrastruktur antariksa.
(dem/dem) Add
source on Google