Godzilla El Nino Batal, BRIN Warning Petaka Baru Muncul di Jawa Barat

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Selasa, 23/06/2026 09:50 WIB
Foto: Seorang warga berjalan di tanah yang retak akibat kekeringan di Danau Cinere, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/9/2023). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan fenomena Godzilla El Nino kemungkinan kecil akan terjadi tahun ini. Namun lembaga tersebut memberikan peringatan lain soal musim kemarau.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman mengingatkan masyarakat dan pemerintah masih harus mewaspadai musim kemarau yang terjadi lebih panjang dari biasanya.

"El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis," jelas Albertus, dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (23/6/2026).


Sebagai informasi Godzilla El Nino sendiri adalah fenomena El Nino dengan intensitas kuat. Fenomena tersebut bisa memicu kekeringan ekstrem pada suatu wilayah.

Albertus menjelaskan hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan kondisi iklim global mengarah pada El Nino kategori moderat dengan peluang 27%.

Albertus menjelaskan peluang Godzilla El Nino muncul kecil untuk tahun ini akibat kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada pada posisi netral diprediksi hingga April 2027.

Sementara Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Nino kuat periode 2023-2024. Jadi lautan belum cukup energi membentuk El Nino super ekstrem dalam waktu dekat.

Peningkatan risiko El Nino ekstrem tercatat pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Berdasarkan pendekatan analisis stokastis dengan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Nino mencapai 40%.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi bakal terjadi pada Agustus. Beberapa wilayah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat akan mengalami kondisi sangat kering, seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan dan Kota Bandung.

"Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen," jelasnya.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Komdigi Dorong Hilirisasi Mineral Kritis Demi Kedaulatan Digital