Tegang, Astronaut Amerika Ngumpet Diancam Rusia Pakai Gergaji
Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) panas. Perselisihan antara Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan lembaga antariksa Rusia, Roscosmos, memuncak terkait cara mengatasi kebocoran udara yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Puncaknya, pihak Rusia dikabarkan berniat menggunakan gergaji dan bor untuk memperbaiki kerusakan, sehingga memaksa para astronaut AS berlindung ke pesawat ruang angkasa yang sedang berlabuh di ISS, demi keselamatan.
Sejak 2019, bagian terowongan pendek bernama PrK, yang menghubungkan modul Rusia Zvezda dengan pelabuhan di bagian belakang ISS, terus mengalami kebocoran udara. Dampak dari usia ISS yang sudah lebih dari 20 tahun memang makin jelas.
Situasi panas kembali pada tanggal 5 Juni 2026 lalu. Juru bicara NASA, Bethany Stevens, mengumumkan bahwa lima astronaut akan berlindung di dalam pesawat ruang angkasa Dragon yang sedang tertambat. Langkah ini diambil "demi kehati-hatian yang tinggi" karena adanya "tindakan penanganan" yang akan dilakukan pihak Rusia untuk memperbaiki celah atau retakan di bagian tersebut.
Kedua lembaga awalnya menutup rapat detail kejadian hari itu. Namun, berdasarkan laporan dari Ars Technica dan The Register yang mengutip pernyataan pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya, Roscosmos berencana mengambil langkah ekstrem yang sangat dikhawatirkan oleh tim NASA.
Menurut sumber tersebut, salah satu rencana awal yang diajukan pihak Rusia adalah memotong bagian tertentu menggunakan gergaji, sedangkan rencana lain melibatkan penggunaan bor beserta alat penahan bor, yang dirancang untuk menembus dinding modul stasiun tersebut.\
Hal yang lebih mengkhawatirkan, para kosmonot Rusia dikabarkan mendekati modul PrK dengan gergaji di tangan, berniat memotong sebuah penyangga yang berfungsi menahan beban struktur stasiun.
"Kami sempat mengancam akan menyuruh seluruh astronaut mengenakan pakaian luar angkasa dan masuk ke dalam Dragon, sebagai pesan kepada dunia bahwa kami tidak setuju dengan tindakan itu," ujar salah satu pejabat NASA kepada Ars Technica. "Namun, awalnya mereka sama sekali tidak peduli."
Perselisihan makin memburuk saat komunikasi antara kedua belah pihak terputus. NASA akhirnya mengambil keputusan tegas dengan memerintahkan keempat anggota kru misi Crew-12, serta astronaut Chris Williams yang baru tiba di ISS bulan November lalu menggunakan pesawat Soyuz, untuk segera berlindung di dalam pesawat Dragon.
"Kami menilai ada kemungkinan sangat besar akan terjadi hal buruk jika mereka memotong penyangga itu," tambah sumber dari NASA tersebut.
Keputusan drastis ini ternyata cukup efektif. Setelah seluruh astronaut AS masuk ke dalam pesawat dan bersiap untuk mengamankan diri, pihak Roscosmos akhirnya membatalkan rencana mereka dan menarik diri.
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya kerja sama internasional di luar angkasa, serta dampak besar yang ditimbulkannya bagi masa depan ISS. Sebagai dampak dari kejadian ini, modul PrK rencananya akan dinonaktifkan dan tidak lagi diberi tekanan udara sampai ada solusi yang pasti. Hal ini tentu sangat membatasi penggunaan pelabuhan penambatan yang terhubung ke modul tersebut.
Selama bertahun-tahun, para ahli telah membahas berbagai cara untuk menangani risiko kebocoran ini, mulai dari perbaikan hingga penutupan permanen.
Astronaut Badan Antariksa Eropa (ESA), Andreas Mogensen, pada tahun 2024, mengatakan bahwa solusi terakhir ada;ah penutupan total bagian tersebut.
"Stasiun masih bisa terus beroperasi," ujarnya saat itu. "Namun tentu saja, kita tidak pernah tahu masalah apa lagi yang mungkin muncul setelahnya."
(dem/dem) Add
source on Google