Telegram Diblokir Total, Ramai-Ramai Warga Download VPN
Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat India ramai-ramai mengunduh layanan jaringan pribadi virtual (VPN). Hal ini menyusul pemblokiran pemerintah pada Telegram yang dilakukan sejak Selasa (16/6) lalu.
Data dari perusahaan intelijen aplikasi Appfigures mengatakan jumlah download aplikasi VPN melonjak 49% bersamaan dengan hari pemblokiran Telegram. Tercatat unduhan aplikasi mencapai 208 ribu dari sebelumnya 139 ribu, dikutip dari Tech Crunch, Jumat (19/6/2026).
Proton VPN mencatatkan jumlah download terbesar dengan 113% pada App Store Apple di negara tersebut. Berikutnya ada Turbo VPN dengan 85%.
Kedua aplikasi juga banyak diunduh, dengan kenaikan 64% untuk Proton VPN dan Turbo VPN sebesar 35%.
Aplikasi lain yang mengalami hal serupa adalah NordVPN yang melonjak 41% di App Store, serta ExpressVPN bertambah 31% di Google Play.
Peringkat aplikasi-aplikasi VPN juga mengalami peningkatan di toko aplikasi India. Proton VPN berada di peringkat 5 dari sebelumnya ke-19 pada Utilitas Apple periode 16-18 Juni, serta ranking ke-2 di Play Store dari nomor 8.
Penyedia layanan VPN Kanada, Windscribe juga mendapatkan berkah yang sama. Pendaftaran aplikasi dari India mencapai puncaknya 100% dan unduhan pertama untuk iOS meningkat 89%.
Sensor Tower juga melaporkan unduhan untuk seluruh kategori VPN di India meningkat 10% dari hari-ke-hari pada 17 Juni. Padahal sebelumnya tren download aplikasi sempat mengalami penurunan selama dua minggu sebelumnya.
Selain itu, masyarakat India juga mencari alternatif aplikasi selain Telegram. Salah satunya adalah Signal yang mengalami peningkatan download 72% di App Store dan 322% di Play Store, begitu juga Viber melompat 216% untuk App Store.
Jumlah download paling tajam dilaporkan iMe, aplikasi yang terhubung dengan Telegram. Rata-rata download harian menjadi 50.900 pada 16 Juni di Play Store dari sebelumnya hanya 827 kali download.
Pemerintah India melakukan pembatasan sementara Telegram hingga 22 Juni. Otoritas setempat beralasan langkah ini karena kekhawatiran penipu menggunakan platform untuk menargetkan kandidat jelang ujian ulang untuk ujian masuk nasional setingkat sarjana.
Menurut pemerintah, langkah itu akan mencegah penyebaran soal ujian palsu dan penipuan terkait lainnya.
Namun Telegram tak tinggal diam. Pihak aplikasi membawa masalah ini ke pengadilan tinggi Delhi dan menyatakan seharusnya yang ditargetkan konten bukan melakukan pemblokiran secara menyeluruh.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]