Hidup Makin Susah, Banyak Orang Ketakutan Jadi Pengangguran

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
11 June 2026 15:15
Ilustrasi PHK (Freepik)
Foto: Ilustrasi PHK (Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) membuat banyak orang takut jadi pengangguran. Survei terbaru dari Reuters/Ipsos menunjukkan lebih dari separuh warga AS khawatir teknologi AI akan menghilangkan pekerjaan mereka.

Dalam survei yang berlangsung selama enam hari, sebanyak 53% responden mengaku khawatir AI dapat menggantikan pekerjaan di rumah tangga mereka. Kekhawatiran tersebut muncul relatif merata di berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan.

Sebaliknya, 37% responden mengaku tidak khawatir sama sekali terhadap dampak AI terhadap lapangan kerja. Sementara itu, 10% responden menyatakan tidak yakin atau memilih tidak menjawab.

Hasil survei ini muncul setelah sejumlah perusahaan besar mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dikaitkan dengan strategi pengembangan AI. Salah satunya perusahaan perangkat lunak Intuit yang bulan lalu menyatakan akan memangkas 17% tenaga kerja globalnya untuk merampingkan operasional dan memperkuat fokus pada investasi AI.

Kekhawatiran terhadap AI juga mencuat di berbagai kalangan. Bulan lalu, mahasiswa Universitas Arizona bahkan mencemooh mantan CEO Google, Eric Schmidt, saat ia membahas dampak AI dalam sebuah upacara wisuda.

Selain ancaman terhadap pekerjaan, penggunaan AI sebagai alat propaganda politik, hiburan, hingga peperangan juga memicu peringatan dari sejumlah pemimpin dunia, termasuk Paus Leo XIV.

Meski demikian, dampak AI terhadap pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih belum dapat dipastikan. Sejauh ini, perekonomian AS masih mencatat pertumbuhan lapangan kerja yang solid dalam beberapa bulan terakhir.

Salah satu responden, Jennifer Schalhoub, penulis lepas berusia 62 tahun dari Little Ferry, New Jersey, mengaku baru-baru ini kehilangan pekerjaan yang selama ini ia jalani, yakni menulis surat kepada pejabat pemerintah untuk mendukung kebijakan tertentu. Ia menduga perkembangan AI ikut berperan dalam hilangnya pekerjaan tersebut.

"AI mengambil alih karena orang semakin kurang peduli dengan kualitas pekerjaan yang dihasilkan," kata Schalhoub, dikutip dari Reuters, Kamis (11/6/2026).

AI mulai menjadi perhatian luas di Amerika Serikat sejak 2022 ketika perusahaan AI OpenAI meluncurkan ChatGPT. Produk tersebut mampu menjawab pertanyaan pengguna layaknya manusia dan menghadirkan cara baru dalam mencari informasi di internet, sehingga langsung menjadi ancaman bagi dominasi mesin pencari Google milik Alphabet.

Di sisi lain, perusahaan AI Anthropic juga terus memperluas bisnisnya melalui berbagai produk, termasuk asisten pemrograman Claude Code. Baik Anthropic maupun OpenAI turut menjadi sorotan Wall Street karena rencana mereka menawarkan saham kepada publik.

Survei Reuters/Ipsos juga menemukan lulusan perguruan tinggi menggunakan AI lebih intensif dibandingkan kelompok lain. Sebanyak 50% lulusan perguruan tinggi mengaku rutin memakai AI, sementara angkanya hanya 34% pada responden tanpa gelar sarjana. Secara keseluruhan, 40% warga AS mengaku menggunakan AI secara rutin.

Selain itu, 73% warga AS menyatakan khawatir terhadap meningkatnya penggunaan AI. Angka tersebut naik dibandingkan survei Reuters/Ipsos pada 2023 yang mencatat tingkat kekhawatiran sebesar 68%.

Lauren Hayes, seorang psikolog klinis di negara bagian Washington, juga mengaku khawatir setelah beberapa kliennya mulai berkonsultasi dengan AI di sela-sela sesi terapi untuk membantu mengatasi kecemasan.

"Saya tidak percaya kecerdasan buatan mampu memiliki pemahaman dan kepekaan sekompleks manusia," kata Hayes.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 3 dari 10 GenZ Tak Punya Pekerjaan, Nasibnya Makin Mengerikan


Most Popular
Features