Ramai-Ramai Tinggalkan Google Beralih ke Penggantinya, Ada Apa?

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Kamis, 11/06/2026 12:05 WIB
Foto: REUTERS/Arnd Wiegmann

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama puluhan tahun, Google menjadi banyak acuan untuk pencarian. Namun berkembangnya AI membuat dominasi itu mulai berkurang, yang juga berarti teknologi asal Amerika Serikat (AS) juga ditinggalkan.

AI menghasilkan banyak mesin pencarian baru. Di sisi lain, Uni Eropa juga berupaya mencoba membasmi praktik monopoli lewat aturan DSA dan DMA yang menekan posisi Google.


Kedua aturan tersebut menjadi upaya kawasan tersebut untuk menyehatkan iklim kompetisi. Dengan begitu diharapkan para pengguna bisa mendapatkan layanan terbaik.

Langkah terbaru dari Uni Eropa juga membuat Google semakin ditinggalkan. Parlemen Eropa memutuskan menggantikan Google sebagai mesin pencari default mulai 4 Juni 2026 lalu.

Otoritas itu menggantikannya dengan mesin pencari lokal, Qwant yang berasal dari Perancis. Semua komputer di lingkungan Parlemen Eropa akan menggunakan platform tersebut.

"Mulai 4 Juni 2026, Qwant akan menggantikan Google sebagai mesin pencari default di komputer-komputer Parlemen Eropa. Hal ini sejalan dengan komitmen Parlemen terhadap kedaulatan digital dan perlindungan data pribadi," kata para pejabat kepada anggota parlemen dalam sebuah email yang dilihat Politico.

Email juga menyebut Qwant sebagai mesin pencari Eropa yang berfokus pada privasi. Platform yang didirikan sejak 2013 didesain menghindari pelacakan pengguna atau pengumpulan data pribadi.

Dengan peralihan ini membuat bilah alamat pada browser Firefox dan Edge akan dialihkan melalui Qwant secara otomatis. Anggota parlemen masoh memiliki kebebasan menggunakan mesin pencari pesaing atau mengubah pengaturan default masing-masing.

Upaya baru ini dilakukan setelah anggota parlemen melakukan tekanan untuk mengurangi ketergantungan lembaga di Uni Eropa pada teknologi buata AS.

Kelompok lintas partai terdiri dari 38 anggota juga telah menyurati Presiden Parlemen Roberta Metsola pada November lalu. Mereka mendesak lembaga secara bertahap menghapus software Microsoft dan teknologi buatan luar negeri lain.

Para anggota beralasan ketergantungan pada raksasa teknologi AS membuka kerentanan strategis.

Baik Google dan Qwant tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait masalah ini.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Bantu Bisnis Konstruksi Makin Produktif, RI Siap?