China Balas Dendam, Amerika Menggila Langsung Blacklist Total
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertarungan antara China dan Amerika Serikat (AS) di sektor teknologi makin sengit. Masing-masing negara melancarkan sanksi satu sama lain, meskipun Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sudah bertemu di Beijing beberapa saat lalu.
Dalam pertemuan itu, Trump dan Xi Jinping menyepakati penambahan waktu 'gencatan senjata' dagang antara AS-China. Namun, tetap saja kedua negara secara aktif melempar 'serangan' baru yang membatasi bisnis masing-masing negara.
Pada April lalu, China dilaporkan menyiapkan langkah baru dalam membatasi ekspor teknologi canggih untuk produksi panel surya ke AS. Langkah pengetatan ini berisiko mengganggu investasi perusahaan AS dan menghambat perlombaan komputasi berbasis ruang angkasa.
China saat ini menguasai lebih dari 80% komponen panel surya dunia. Negara itu juga menjadi rumah bagi 10 pemasok utama mesin pembuat sel surya global, demikian dikutip dari Reuters.
Langkah ini dinilai sebagai eskalasi baru perang teknologi antara China dan Amerika. Sebelumnya, Beijing juga telah membatasi ekspor rare earth sebagai respons terhadap tarif dari Washington.
Persaingan kini bahkan meluas ke proyek komputasi berbasis ruang angkasa bertenaga surya. CEO Tesla Elon Musk diketahui mendorong pembangunan pusat data orbital untuk menopang kebutuhan listrik kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, raksasa teknologi AS seperti Google dan Amazon juga tengah berinvestasi besar pada tenaga surya dan sistem penyimpanan energi untuk menopang lonjakan kebutuhan daya AI.
Analis memperkirakan China khawatir upaya Tesla membangun industri panel surya di AS akan mengurangi ketergantungan pada pemasok China. Bahkan, Tesla dilaporkan tengah mencari peralatan senilai US$2,9 miliar dari vendor China.
Musk juga menargetkan pembangunan kapasitas manufaktur tenaga surya sebesar 100 gigawatt di Amerika Serikat sebelum 2028. Jika berhasil, langkah ini dapat menciptakan pesaing baru bagi dominasi China.
Perusahaan riset Trivium China menyebut keberhasilan Tesla mencapai swasembada tenaga surya bisa menjadi "mimpi buruk" bagi produsen China.
Pembatasan yang dicanangkan China termasuk larangan pengiriman mesin produksi panel efisiensi tinggi berbasis teknologi HJT atau heterojunction ke AS. Teknologi yang memungkinkan panel menangkap lebih banyak energi matahari dan meningkatkan output listrik.
AS Masukkan Raksasa China ke Daftar Hitam
Tak tinggal diam, AS kembali melancarkan serangan balik ke China dengan memasukkan raksasa-raksasa teknologi asal China ke dalam 'daftar hitam' Pentagon. Daftar yang dinamai 1260H atau daftar CMC itu memuat perusahaan-perusahaan yang dinilai membantu militer China.
Adapun raksasa teknologi yang masuk daftar antara lain BYD, Alibaba, Baidu, Nio, WuXi AppTec, RoboSense Technology, dan Unitree. Sebagai informasi, pada 1 Juni 2026, Nvidia asal AS mengumumkan rencana untuk berkolaborasi dengan Unitree dalam mengembangkan robot untuk penelitian.
Keputusan AS ini disambut kemarahan besar dari entitas-entitas yang masuk daftar. Mereka membantah terlibat dengan militer China dan siap melawan keputusan tersebut.
Keduataan China di Washington juga mengecam tindakan pemerintah AS. Lembaga itu melawan berbagai tindakan diskriminatif terhadap perusahaan-perusahaan China, serta akan mengamati regulasi dan hukum lokal yang berlaku.
"AS harus berhenti dengan praktik keliru dan menciptakan iklim tak adil serta diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan China," kata juru bicara kedutaan dalam pernyataannya, dikutip dari Reuters.
Meskipun daftar tersebut tidak secara resmi memberlakukan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan China, berdasarkan undang-undang AS baru-baru ini, Kementerian Pertahanan akan dilarang mulai akhir bulan ini untuk melakukan kontrak langsung dengan perusahaan-perusahaan dalam daftar tersebut, dan untuk membeli produk atau layanan mereka melalui pihak ketiga mulai tahun 2027.
Langkah-langkah tersebut dapat menimbulkan biaya material bagi perusahaan-perusahaan China dan mitra mereka. Hal ini juga sekaligus memperuncing konflik geopolitik antara AS-China.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]