Dunia Berubah Total, Tandanya Makin Kencang di Kampus-Kampus

Redaksi,  CNBC Indonesia
10 June 2026 14:50
Ilustrasi Sarjana. (Pixabay)
Foto: Ilustrasi Sarjana. (Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah mengubah cara hidup masyarakat modern, termasuk dalam dunia pendidikan. Pada 2021 lalu, hanya ada 5 universitas di Amerika Serikat (AS) yang membuka jurusan AI.

Kini, universitas-universitas meluncurkan program-program dengan sangat cepat, sehingga sulit dilacak jumlahnya secara akurat. Namun, menurut laporan New York Times berdasarkan data dari Pusat Komputasi Inklusif Northeastern University, setidaknya ada 74 jurusan AI dan 89 sub-jurusan AI yang tersedia di kampus-kampus AS.

Ada puluhan kampus lain, bahkan yang jauh dari Silicon Valley, siap untuk meluncurkan jurusan baru AI tahun ini. Fenomena ini mencerminkan era AI sudah benar-benar 'menggerogoti' kehidupan masyarakat di berbagai lini.

Tujuan universitas-universitas meluncurkan jurusan AI adalah untuk menjaga mahasiswa tetap kompetitif seiring dengan perubahan ekonomi global yang disebabkan AI. Namun, program-program baru ini sangat beragam detailnya.

Beberapa universitas menekankan cara kerja internal AI, keamanan data AI, etika AI, serta banyak lainnya yang fokus pada cara menggunakannya.

Belum jelas bagaimana nasib para mahasiswa yang meraih gelar tersebut ketika perusahaan-perusahaan terus melakukan efisiensi, terutama di sektor teknologi yang marak PHK.

"Ada yang menyebutnya gelembung (bubble). Mungkin memang begitu," kata Uzezi Olorunmola, yang sedang mengejar gelar doktor di bidang AI di University of North Dakota.

"Menurut saya, AI akan tetap ada. Makin cepat kita memahami program ini dan juga tahu cara menggunakan AI atau aplikasi AI, itu akan lebih baik," ia menambahkan.

Di North Dakota State University, saat ini baru ada sub-jurusan AI. Namun, kampus tersebut akan segera menawarkan jurusan AI pada tahun ini. Kurikulumnya akan meliputi topik-topik seperti konsekuensi sosial dari AI, serta keamanan data di era AI.

"Kami tidak hanya mengajarkan model bahasa besar (LLM). Menurut saya, kami tak akan membantu mahasiswa jika hanya terbatas pada aspek itu," kata Anne Denton, koordinator program sarjana di Departemen Ilmu Komputer di North Dakota State University, dikutip dari New York Times, Rabu (10/6/2026).

Ramai-Ramai Mau Masuk Jurusan AI

Dalam pengajuan kepada Dewan Pendidikan Tinggi Negara Bagian tahun ini, North Dakota State University menyatakan bahwa permintaan untuk gelar AI makin membludak. "Permintaannya kuat dan terus meningkat, sementara pasokan regional sangat terbatas."

North Dakota State University memprediksi program AI akan memilihi 60 mahasiswa dalam 5 tahun ke depan.

Di Grand Forks, para pemimpin dan profesor University of North Dakota percaya bahwa antusiasme terhadap AI tidak hanya terbatas pada gelar sarjana. Banyak orang-orang yang sudah bekerja ingin atau perlu mempelajari teknologi baru tersebut.

"Mereka menghubungi saya, dan mereka berkata, 'dalam pekerjaan saya, saya harus bekerja dengan semua tugas analisis data ini'. Mereka mencari program yang akan memberi mereka pengetahuan dasar yang lebih banyak," kata Emanuel S. Grant, direktur program pascasarjana untuk School of Electrical Engineering and Computer Science.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article China Ikut Indonesia, Ramai-Ramai Tolak Digantikan Total


Most Popular
Features