Krisis Menggila Produk China Pembunuh UMKM Sampai Tidak Laku
Jakarta, CNBC Indonesia - Mesin ekspor e-commerce China mulai melemah karena melonjaknya biaya bahan bakar pesawat dan melemahnya permintaan dari konsumen berpendapatan rendah di negara-negara Barat. Kondisi tersebut mengancam profitabilitas platform belanja online raksasa seperti Temu, Shein, dan AliExpress.
Tekanan terhadap model bisnis e-commerce murah China sebenarnya sudah muncul sejak tahun lalu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberlakukan tarif baru serta menghapus fasilitas pembebasan bea masuk untuk paket bernilai rendah.
Kini, konflik di Timur Tengah, termasuk perang Iran, memperburuk situasi dengan mendorong kenaikan biaya logistik global. Perusahaan pengiriman ekspres seperti DHL Express juga mulai menerapkan biaya tambahan bahan bakar yang lebih tinggi.
Data Trade and Transport Group menunjukkan ekspor e-commerce murah China turun 10,9% secara tahunan menjadi US$9,81 miliar pada April 2026. Angka tersebut menjadi penurunan tahunan kelima secara beruntun.
Penjual pakaian wanita di Temu yang berbasis di Shenzhen, Diana Qiao, mengaku telah menaikkan harga jual produknya sebesar US$2 karena biaya pengiriman per pakaian naik rata-rata US$1.
"Beban akhirnya ditanggung oleh konsumen," kata Qiao, dikutip dari Reuters, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, kenaikan harga tersebut diperlukan untuk menjaga margin keuntungan. Meski penjualan sedikit menurun, sejauh ini perusahaannya belum mengubah pola pengiriman barang.
Analis menilai penurunan ekspor tidak hanya mencerminkan lonjakan biaya logistik, tetapi juga menjadi tanda bahwa masa pertumbuhan eksplosif platform e-commerce murah mulai berakhir.
Temu dan Shein adalah platform ecommerce China yang terkenal karena menawarkan produk dengan harga sangat murah. Produk-produk itu dikirim langsung secara eceran dari pabrik-pabrik di China ke konsumen di seluruh dunia memanfaatkan celah bebas bea masuk untuk produk berharga murah.
Direktur Pelaksana Trade and Transport Group, Frederic Horst, mengatakan perusahaan-perusahaan e-commerce kemungkinan mulai mengirim barang dalam jumlah besar ke gudang di luar negeri untuk kemudian didistribusikan secara lokal.
"Langkah itu masuk akal jika melihat biaya angkutan udara dibandingkan nilai produknya. Jika Anda membeli atasan dengan berat 300-400 gram, biaya angkutan udara bisa mencapai 60% dari total biaya produk," jelasnya.
Sementara itu, Alibaba selaku pemilik AliExpress menegaskan pihaknya tetap fokus menjaga harga yang kompetitif bagi konsumen sekaligus menciptakan lingkungan bisnis yang stabil bagi penjual dan pembeli di tengah fluktuasi biaya transportasi global.
Meski nilai ekspor masih lebih tinggi dibandingkan dua tahun lalu, prospek pertumbuhan ke depan diperkirakan semakin menantang. Selain biaya logistik yang terus meningkat, daya beli konsumen di AS dan Eropa juga tergerus inflasi dan kenaikan harga energi.
Tekanan terhadap sektor ini diperkirakan bertambah setelah Uni Eropa berencana mengenakan biaya sebesar 3 euro untuk setiap paket e-commerce bernilai rendah mulai 1 Juli mendatang.
Kepala Riset Freightos, Judah Levine, memperkirakan tarif angkutan udara akan tetap tinggi dalam waktu lama karena harga bahan bakar pesawat masih mahal. Bahkan jika konflik Iran berakhir, penurunan biaya logistik diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Sementara itu, Chief Operating Officer Airfreight Hellmann Worldwide Logistics, Martin Habisreitinger, menyebut perusahaan dapat mengalihkan pengiriman ke moda transportasi lain atau menunda sebagian pengiriman jika biaya logistik terus meningkat.
(dem/dem) Add
source on Google