Makin Banyak Orang Ogah Punya Anak, Studi Ungkap Alasan Tak Terduga

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 16:35 WIB
Foto: Infografis/ Biaya Melahirkan akan Ditanggung Negara Lho/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Tingkat kesuburan (fertility rate) di berbagai belahan dunia menunjukkan tren penurunan. Beberapa negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, bahkan sudah mengalami 'resesi seks', ditandai dengan tingkat pergantian populasi (replacement rate) jauh di bawah 2,1 anak per wanita yang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas populasi.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi keengganan masyarakat dunia untuk memiliki anak. Beberapa hal yang sering disebut adalah kondisi ekonomi, mahalnya biaya hidup, hingga gerakan feminisme yang kian meningkat.


Namun, ada faktor lain yang digadang-gadang berperan dalam penurunan tingkat kesuburan, yakni smartphone. Para pakar sudah lama mencurigai kaitan antara penggunaan smartphone dengan penurunan angka kelahiran (birthrate).

Menurut laporan New York Times, penurunan birthrate mulai signifikan pada awal 2007, yakni tahun yang sama saat iPhone diperkenalkan ke publik. Namun, hingga kini masih sulit membuktikan korelasinya secara akurat.

Menurut dua studi, satu dipublikasikan pada Senin (8/6) ini dan satunya lagi pada Mei 2026, mulai menguliti dan menguji kaitan smartphone dengan penurunan angka kelahiran secara ilmiah.

Ini adalah upaya terbaru untuk menjelaskan penurunan angka kelahiran yang drastis di Amerika Serikat (AS) dan negara-negara lain selama 20 tahun terakhir. Para peneliti telah meneliti penggunaan kontrasepsi, angka aborsi, peningkatan tingkat pendidikan perempuan, dan bahkan acara televisi populer "16 and Pregnant".

Membuktikan bahwa smarpthone menyebabkan penurunan angka kelahiran adalah upaya yang sulit. Ada sejumlah peristiwa besar pada tahun-tahun tersebut, termasuk Resesi Besar.

iPhone dan Angka Kesuburan

Caitlin Myers, seorang ekonom di Middlebury College, dan Ezekiel Hooper, mahasiswanya, menggunakan peluncuran awal iPhone yang tidak merata sebagai cara untuk mengisolasi efek smartphone terhadap tingkat kesuburan.

iPhone pertama dirilis pada Juni 2007, tulis mereka, dan hanya tersedia di jaringan AT&T hingga Februari 2011. Studi ini membandingkan tingkat kesuburan di wilayah-wilayah AS yang memiliki cakupan AT&T hampir universal dengan wilayah-wilayah yang memiliki sedikit atau tanpa cakupan sama sekali.

Makalah mereka, yang diterbitkan di National Bureau of Economic Research, menemukan bahwa iPhone menyebabkan penurunan kesuburan hingga setengahnya antara tahun 2007 dan 2011. Efek yang paling menonjol terjadi di kalangan anak muda berusia 15 hingga 24 tahun.

Apa yang terjadi di wilayah-wilayah dengan iPhone? Salah satu teori, kata Profesor Myers, adalah bahwa anak muda mulai lebih banyak bersosialisasi melalui smartphone mereka dan kurang berinteraksi langsung. Akibatnya, mereka cenderung kurang melakukan hubungan seks dan hamil.

Myers mengatakan iPhone juga membuat akses ke konten pornografi makin mudah. Hal ini membuat generasi muda cenderung mengganti aktivitas seksual dengan mengonsumsi konten pornografi.

Selain itu, smartphone juga membuat generasi muda lebih banyak terpapar informasi-informasi penting tentang kesehatan reproduksi, serta cara mencegah kehamilan, termasuk menggunakan alat kontrasepsi. Informasi terkait aborsi juga bisa dengan mudah ditemui lewat smartphone.

Para peneliti yang tidak terlibat dalam studi tersebut mengatakan bahwa hasilnya meyakinkan.

Phillip B. Levine, seorang ekonom di Wellesley College, mengatakan bahwa ia "sedikit iri" dengan data Middlebury, yang menurutnya memberikan wawasan nyata tentang potensi pendorong perubahan sosial besar.

Ia mengatakan bahwa beberapa variasi dalam data AT&T dapat mengacaukan temuan akhir. Misalnya, perusahaan tersebut mungkin telah mendirikan kantor di daerah yang lebih kaya, atau lebih padat penduduknya, sehingga memperkenalkan pola "yang kemungkinan besar tidak lagi acak," katanya.

Ia mengatakan bahwa Profesor Myers mencoba memperhitungkan variasi tersebut, dan bahwa temuannya masuk akal.

Namun, ia memperingatkan: "Anda tidak boleh menganggap hasilnya secara harfiah dan mengatakan: Oh, ini kesalahan iPhone. Ini adalah contoh dari jenis pengaruh sosial yang telah menyebabkan penurunan angka kelahiran."

Resesi Seks Meluas ke Mana-Mana

Penurunan angka kelahiran, yang dulunya merupakan ciri masyarakat kaya, kini menjadi fenomena yang hampir mendunia. Luasnya penurunan ini membuat para peneliti mencari penyebab umum. Para penulis studi kedua juga memutuskan untuk meneliti penggunaan smartphone.

"Negara-negara dengan sistem perawatan kesehatan, rezim kesejahteraan, hukum aborsi, tradisi keagamaan, resesi, dan tren demografis yang sangat berbeda semuanya mengalami penurunan serupa dalam periode waktu yang sama," tulis para penulis, Hernan Moscoso Boedo, seorang profesor ekonomi di Universitas Cincinnati dan Nathan Hudson, seorang mahasiswa doktoral.

"Apa pun penyebabnya adalah sesuatu yang global, sesuatu yang datang dalam bentuk yang hampir sama di semua tempat pada waktu yang hampir bersamaan," tulis mereka.

Mereka menganalisis data Bank Dunia yang mengukur prevalensi smartphone dan angka kelahiran remaja di 128 negara. Di negara-negara yang beragam seperti Iran, Kosta Rika, Guatemala, Chili, Meksiko, dan Turki, mereka menemukan bahwa penurunan angka kelahiran remaja meningkat setelah smartphone menjadi fenomena massal.

Mereka menguji teori teknologi mereka di AS menggunakan data jaringan broadband kabel dan jaringan seluler berkecepatan tinggi 4G.

Mereka meneliti di mana akses lebih baik dan lebih buruk dan menemukan efek yang signifikan. Tingkat kesuburan remaja menurun paling cepat di daerah-daerah dengan akses internet kecepatan tinggi yang lebih banyak.

Theodore Joyce, seorang ekonom di Baruch College, mengatakan bahwa ia skeptis terhadap kedua studi tersebut. Angka kelahiran remaja telah menurun sejak tahun 1990-an, katanya, jauh sebelum teknologi muncul. Makalah Profesor Myers, katanya, meneliti periode singkat sebelum smartphone sepenuhnya digunakan.

Menurutnya, hipotesis tersebut mungkin saja benar, tetapi tetap saja bersifat spekulatif.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Spam & Scam Mengancam Era AI, Gimana Jurus Bangun Trust Digital?