SpaceX Milik Elon Musk Disebut Bakal Jadi Raja Saham Gorengan

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 13:35 WIB
Foto: Roket pendorong SpaceX Falcon 9 mendarat di Kompleks Peluncuran 40 di Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral di Cape Canaveral, Florida, AS, 13 Februari 2026. (REUTERS/Steve Nesius)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana IPO Space X milik Elon Musk, SpaceX ini menjadi sorotan utama pasar keuangan global. Perusahaan tersebut diproyeksikan akan masuk bursa dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai US$ 1,75 triliun. Dalam satu malam, SpaceX bakal menjadi salah satu perusahaan paling mahal di dunia.

Namun, di balik gemerlap ambisi tersebut, analisis mendalam menunjukkan bahwa nilai itu nyaris mustahil untuk dibenarkan dengan kinerja nyata perusahaan-sehingga keuntungan bagi investor baru hanyalah angan-angan belaka.

Seperti dilaporkan majalah keuangan Fortune, untuk mengejar valuasi itu SpaceX harus membukukan kinerja yang belum pernah dicapai oleh perusahaan mana pun sepanjang sejarah.


Angka-angka dalam dokumen yang diserahkan SpaceX ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) padahal menggambarkan potensi bisnis yang jauh di bawah ambisinya. Pada tahun lalu saja, SpaceX mencatat kerugian yang sangat besar sebesar US$ 4,9 miliar, sedangkan pendapatannya hanya mencapai US$ 18,7 miliar.

David Trainer, pakar keuangan perusahaan dan tokoh berpengalaman di Wall Street, menghitung bahwa SpaceX harus mencapai pendapatan US$ 1,1 triliun untuk memberikan return investasi yang wajar bagi pembeli sahamnya. Angka itu hampir 60 kali lipat dari pendapatan yang berhasil dicatat SpaceX pada tahun 2025.

Sebagai perbandingan, pendapatan tersebut bahkan lebih tinggi dari rekor pendapatan tahunan tertinggi yang pernah dicapai oleh satu perusahaan yaitu Amazon dengan total US$ 742 miliar dalam empat kuartal terakhir.

Berdasarkan perkiraan Fortune, untuk mencapai nilai tersebut, SpaceX harus mampu meningkatkan penjualannya sebesar 50 persen setiap tahun selama satu dekade berturut-turut. Tingkat pertumbuhan sebesar itu belum pernah didekati oleh perusahaan mana pun dalam sejarah bisnis.

Jika berhasil dicapai pada tahun 2035, ukuran ekonomi SpaceX akan setara dengan satu keseluruhan industri yang terdiri dari puluhan perusahaan masuk daftar Fortune 500-bahkan lebih dari 50 persen lebih besar dibandingkan sektor utilitas publik atau industri hiburan global saat ini.

Pertumbuhan luar biasa itu juga tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan utama SpaceX saat ini, yaitu layanan internet berbasis satelit Starlink. Perusahaan harus menciptakan sumber pendapatan baru yang sangat besar dan berkelanjutan, yang saat ini belum terlihat jelas rencana pelaksanaannya.

Situasi perusahaan pun makin rumit setelah dua usaha lain milik Elon Musk dimerger ke dalam SpaceX. Perusahaan kecerdasan buatan xAI padahal masih dalam tahap pengembangan, sedangkan platform media sosial X masih berjuang memulihkan kinerjanya yang babak belur setelah diakuisisi Elon Musk.

Hingga saat ini, belum ada yang bisa memprediksi secara pasti bagaimana tanggapan pasar saat saham SpaceX mulai diperdagangkan minggu ini. Ada kemungkinan besar investor akan menolak nilai yang terlalu tinggi tersebut. Jika itu terjadi, nilai perusahaan bisa runtuh seketika karena beban yang terlalu berat, dan banyak pelaku pasar bahkan bersiap mengambil posisi short, bertaruh bahwa nilai saham SpaceX akan turun drastis.

Namun, ada faktor lain yang perlu diperhitungkan pengaruh Elon Musk atas investor ritel. Seperti yang terlihat pada saham perusahaan lain yang dipimpinnya, masih ada banyak dukungan dan kepercayaan dari publik, termasuk atas ambisi terbaru Musk yaitu pembangunan pusat data kecerdasan buatan di luar angkasa.

Selain itu, di tengah gelombang antusiasme berlebih terhadap teknologi AI dan ketidakstabilan pasar energi akibat krisis minyak, pasar saham belakangan ini sering kali tidak lagi mengacu pada dasar kinerja keuangan yang nyata. Banyak pelaku pasar yang berspekulasi berdasarkan harapan masa depan yang jauh dan sulit diwujudkan.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penolakan Starlink di Namibia