Tanda Kiamat Driver Online Makin Kencang di Amerika

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Jumat, 05/06/2026 10:57 WIB
Foto: REUTERS/Daniel Cole

Jakarta, CNBC Indonesia - Era taksi tanpa pengemudi memang telah di depan mata, menggeser layanan pengantaran orang yang disediakan platform seperti Uber dan Lyft. Setidaknya di banyak jalanan Amerika Serikat (AS) kini dipenuhi dengan robotaxi dari berbagai layanan, termasuk Waymo.

Banyak pihak yang mendukung teknologi ini mengklaim taksi robot jauh lebih aman daripada saat dikemudikan oleh manusia. Bahkan data Waymo menunjukkan kecelakaan yang dialami kendaraan perusahaan lebih sedikit dibandingkan saat manusia berada di balik kemudi.


Teori lain adalah kendaraan tanpa pengemudi akan mengurangi kemacetan di jalanan, dikutip dari Ars Technica, Kamis (4/6/2026).

Namun temuan berbeda dipaparkan studi yang diterbitkan Transport Findings oleh Asisten Direktur Riset MIT Transit Lab, Awad Abdelhalim. Penelitian dilakukan dengan menganalisa data dari Agustus 2023 hingga Desember 2025 selama periode 1000 hari.

Studi itu menemukan taksi robot Waymo menyelesaikan 13,8 juta perjalanan dengan 19,3 juta penumpang. Total jarak tempuh mencapai 128,8 juta km, bertumbuh 15% per bulan.

Abdelhalim mencoba membandingkan proporsi perjalanan taksi robot yang kosong atau deadheading serta diisi penumpang.

Hanya 36% dari jarak tempuh Waymo yang dilakukan dengan penumpang. Sementara pada akhir periode studi mengalami peningkatan sekitar 56% dan angkanya menunjukkan stabil.

Sementara perjalanan kosongnya tak berbeda jauh, sekitar 44%. Ini bisa berarti dua, yakni kendaraan yang kosong menunggu atau tengah menjemput penumpang.

Analisis yang sama juga ditemukan pada data CPUC Waymo dari Januari 2024 hingga September 2025 oleh Matthew Raifman dari UC Berkeley. Dia menemukan 44% jarak tempuh Waymo ditempuh dalam keadaan kosong, dan dua pertiganya kosong karena berkeliling menunggu penumpang.

Terkait kemacetan, studi dari MIT tahun 2014 mengungkapkan transportasi online bisa mengurangi kepemilikan mobil dan memangkas lalu lintas. Namun kemudian dua peneliti menarik kesimpulan, karena adanya peningkatan kemacetan dan emisi Co2 akibat layanan taksi online.

Artinya tidak ada perbedaan besar baik kemacetan dengan pengemudi ataupun tidak.

Ars Technica juga mencatat kemungkinan catatan tingkat cedera yang rendah dari robotaxi karena jumlah rata-rata penumpang lebih rendah dibandingkan jumlah rata-rata penumpang kendaraan layanan ride hailing.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Spam & Scam Mengancam Era AI, Gimana Jurus Bangun Trust Digital?