Ilmuwan Ungkap Fakta Mengerikan, Manusia Hidup di Galaksi Kanibal

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Minggu, 24/05/2026 14:30 WIB
Foto: Teleskop luar angkasa Gaia telah mengungkap bahwa galaksi Bima Sakti kita memiliki gelombang raksasa yang beriak keluar dari pusatnya, seperti yang diilustrasikan pada gambar ini. (Dok. ESA/Gaia/DPAC, S. Payne-Wardenaar, E. Poggio et al (2025))

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama miliaran tahun, galaksi Bima Sakti terus membesar. Ternyata salah satunya karena 'menelan' galaksi lain yang lebih kecil.

NASA mencatat galaksi Bima Sakti sendiri membentang 100 ribu tahun cahaya yang berisi 100 miliar hingga 400 miliar bintang. Selama 12 miliar tahun, galaksi ini terus bertumbuh dengan bergabung dengan banyak galaksi kerdil.

Temuan terbaru menemukan bukti galaksi kecil kuno bernama Loki pernah bergabung dengan Bima Sakti sekitar 10 miliar tahun lalu. Para astronom menemukan sisa-sisa bintang yang mungkin mewakili galaksi itu.


Studi yang diterbitkan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society mengungkapkan para astronom berfokus pada gugusan bintang tanpa logam yang berada di dekat cakram galaksi. Ini jadi cara mereka mencari bukti galaksi yang dikonsumsi Bima Sakti dan menentukan sejarah serta evolusinya.

Pencarian bintang miskin logam atau very-metal-poor atau VMP berpusat pada banyak bintang tua di halo bintang galaksi, yakni awan besar, bulat, dan menyebar mengelilingi cakram galaksi. Sejumlah astronom mempercayai bukti penggabungan berada di bagian dalam Galaksi Bima Sakti.

Penulis utama studi, Dr. Federico Sestito selaku peneliti pascadoktoral di Pusat Penelitian Astrofisika Universitas Hertfordshire dan timnya mengidentifikasi 20 bintang miskin logam dengan pengamatan dari teleskop Gaia milik Badan Antariksa Eropa.

Mereka juga menggunakan instrumen spektograf beresolusi tinggi pada Teleskop Kanada-Perancis, Hawaii dekat puncak Maunakea Hawaii untuk mengamati bintang-bintang tersebut.

Namun tim peneliti kesulitan menentukan usia bintang tersebut. Sementara secara komposisi kimia diketahui usianya lebih dari 10 miliar tahun.

Lokasinya berada di sekitar 7.000 tahun cahaya dari tata surya kita. Penelitian itu juga menemukan semua bintang itu memiliki komposisi kimia serupa, artinya berasal dari galaksi kerdil logam yang sama.

Dari 20 bintang yang ditemukan, 11 berada dalam orbit prograde atau bergerak searah dengan cakram galaksi. Sementara sisanya bergerak melawan arah atau orbit retrograde.

"Jika skenario Loki benar, maka sistem yang bergabung dengan galaksi kita dapat membuat bintang-bintangnya searah atau berlawanan arah," jelas Sestito, dikutip dari CNN Internasional, Minggu (24/5/2026).

Menurutnya peristiwa ini bisa terjadi saat Bima Sakti masih berusia muda dan potensi gravitasinya lebih lemah dari yang terjadi saat ini.

"Simulasi kosmologis menunjukkan ini terjadi sekitar 3-4 miliar tahun setelah Big Bang," ucapnya.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Infrastruktur Data Perkuat Daya Saing Bisnis Ekonomi Digital