Dolar Tembus Rp17.700, Pedagang Gadget Buka-Bukaan Dampaknya

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
22 May 2026 15:10
Macbook Neo gerai Digimap di Pasific Place, Jakarta, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)
Foto: Macbook Neo gerai Digimap di Pasific Place, Jakarta, Jumat (22/5/2026). (CNBC Indonesia/Intan Rakhmayanti Dewi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp17.700 mulai memberi tekanan pada industri ritel gadget, termasuk penjualan produk premium seperti Apple.

GM Marketing Apple PT MAP Zona Adiperkasa, Farah Fausa Winarsih mengatakan kenaikan dolar memang menjadi faktor yang tidak bisa dikendalikan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga jual produk di pasar domestik.

"Jadi kenaikan dolar itu adalah sesuatu yang nggak bisa kita kontrol ya. Udah pasti akan ada efek ke dalam pricing-nya kami," ujar Farah ditemui usai peluncuran Macbook Neo di Digimap Mal Pasific Place, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Farah mengakui tekanan kurs berpotensi memicu penyesuaian harga untuk sejumlah produk tertentu, terutama produk yang sudah lebih dulu beredar di pasar.

Sementara itu, untuk produk baru yang saat ini masuk ke Indonesia, harga disebut masih belum mengalami perubahan.

"Kalau yang baru masuk sekarang kita harganya masih stay di sini ya. Tapi kalau untuk produk-produk yang [sudah beredar], mungkin akan ada penyesuaian," tegasnya.

Ia menambahkan kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada produk Apple, melainkan hampir seluruh produk ritel yang terdampak fluktuasi nilai tukar dolar AS.

"Ini nggak cuma terjadi di produk Apple ya, semua produk kena impact," ujar Farah.

Di sisi lain, Farah memastikan kenaikan dolar belum mengganggu pasokan impor produk Apple ke Indonesia. Dari sisi jumlah barang maupun distribusi, perusahaan mengklaim masih berjalan normal.

Pelaku Ritel Mulai Hati-Hati

Meski begitu, pelaku ritel disebut kini menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga penjualan di tengah potensi kenaikan harga akibat kurs.

"Kalau dari segi impor sebenarnya tidak terganggu. Numbers masih sama. Cuma semua retail brand pasti lebih conscious apakah bisa menjual dengan kenaikan harga ini," kata Farah.

Terkait potensi besaran kenaikan harga, Farah belum dapat memperinci angka pastinya. Sebab, pergerakan dolar dinilai sangat dinamis dan dapat berubah dalam hitungan hari.

"Kita selalu berusaha beradaptasi dengan harga tersebut. Bisa jadi tiga sampai empat hari harga berubah, nanti kalau dolar turun kita adjust lagi. Jadi kita selalu coba match dengan perkembangan dolar," jelasnya.

Meski demikian, pihaknya mengaku tetap berupaya menjaga produk Apple agar tetap terjangkau bagi konsumen. Salah satunya melalui kerja sama dengan berbagai mitra pembiayaan, mulai dari perbankan hingga layanan paylater.

Menurut Farah, strategi pembiayaan menjadi kunci agar konsumen tetap bisa membeli perangkat di tengah tekanan kurs. Sejumlah program yang ditawarkan antara lain cicilan ringan, bebas bunga hingga promo pembayaran tertentu.

Selain pembiayaan, program trade-in juga dinilai menjadi solusi untuk menekan harga pembelian perangkat baru. Konsumen dapat menukar perangkat lama mereka sehingga harga produk yang dibeli menjadi lebih rendah.

"Dengan trade-in, produk sebelumnya bisa mengurangi harga produk baru. Jadi walaupun dolar naik, dengan promo dan penawaran yang ada, customer masih lebih mudah mendapatkan produk," pungkasnya.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dukung Pertumbuhan Enterprise Lebih Efisien, Telkomsel Lakukan Hal Ini


Most Popular
Features