Buruh Mogok Kerja 18 Hari Penuh, Presiden Langsung Turun Gunung

Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 20:30 WIB
Foto: Ribuan serikat pekerja di Samsung Electronics menghadiri aksi unjuk rasa di Korea Selatan pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini digelar menjelang ancaman mogok kerja bulan depan yang berpotensi mengganggu pasokan chip, di tengah lonjakan permintaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). (REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi demo dan mogok nasional selama 18 hari yang akan dilancarkan serikat pekerja Samsung Electronics di Korea Selatan menjadi perhatian khusus Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung. Melalui unggahan di X, Lee meminta serikat pekerja dan manajemen Samsung untuk saling menghormati.

"Hak buruh harus dihormati sebagaimana hak bisnis, dan hak manajemen perusahaan harus dihormati sebagaimana hak buruh," tulisnya dalam unggahan X, dikutip dari CNBC International, Senin (18/5/2026).


"Bersikap berlebihan tidak bermanfaat. Tindakan ekstrem justru menyebabkan kemunduran," ia menambahkan.

Pernyataan Lee merupakan yang terbaru dari serangkaian pernyataan dari pejabat pemerintah setempat. Pemerintah mendesak Samsung Electronics dan serikat pekerjanya untuk mencapai kesepakatan sebelum pemogokan yang rencananya dimulai pada 21 Mei 2026.

Sebelumnya, para pejabat pemerintah Korea Selatan, termasuk perdana menteri dan menteri keuangan, telah menyuarakan kekhawatiran bahwa pemogokan di Samsung harus dihindari dengan segala cara. Pemerintah memperingatkan bahwa hal itu dapat menimbulkan risiko signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan pasar.

Pasalnya, dunia saat ini menghadapi krisis kelangkaap chip memori. Krisis ini ditengarai 'ledakan' AI yang membuat permintaan chip berkapasitas tinggi (HBM) kian tak terkontrol. Alhasil, produsen chip mengesampingkan produksi chip memori konvensional untuk perangkat elektronik konsumen dan berakibat pada kelangkaan.

Samsung sendiri merupakan produsen chip memori terbesar di dunia. Kapitalisasi pasarnya menembus US$1 triliun lantaran lonjakan permintaan chip memori yang signifikan.

Tingginya permintaan chip memori Samsung meningkatkan laba operasional perusahaan, tetapi dinilai tidak membawa kesejahteraan bagi pekerja.

Serikat pekerja yang mewakili 47.000 pekerja Samsung menuntut sistem bonus perusahaan yang transparan dan terjamin secara hukum. Mereka menginginkan perusahaan mengalokasikan 15% dari total profit operasional untuk insentif pekerja di divisi semikonduktor, sesuai dengan kinerja. Serikat pekerja juga menuntut penghapusan total batasan bonus yang berlaku saat ini.

Manajemen Samsung telah menawarkan untuk mengalokasikan 10% dari laba operasional untuk bonus dan memberikan paket kompensasi khusus satu kali, menurut kantor berita Korea Selatan Yonhap.

Saham Samsung Electronics melonjak hingga 6,65% pada Senin (18/5), sebelum kemudian turun menjadi sekitar 3%.

Kerugian Rp 1.179 Triliun

Pada Minggu (17/5), Perdana Menteri Korea Selatan Kim Min-seok mengatakan pemerintah akan mengeksplorasi semua langkah yang memungkinkan, termasuk 'penyesuaian darurat', jika pemogokan berisiko menyebabkan 'dampak signifikan'.

Berdasarkan hukum Korea Selatan, menteri tenaga kerja dapat menggunakan 'penyesuaian darura' untuk menangguhkan aksi mogok kerja selama 30 hari jika perselisihan dianggap berpotensi merugikan perekonomian atau kehidupan sehari-hari.

Kim menggambarkan negosiasi pada Senin (18/5) ini sebagai kesempatan terakhir untuk mencegah pemogokan. Ia menambahkan kerugian ekonomi yang akan dihadapi dari pemogokan ini 'di luar imajinasi'.

Perdana Menteri memperkirakan kerugian langsung akibat pemogokan tersebut dapat mencapai 1 triliun won atau Rp11,7 triliun. Kerugian ekonomi dapat meningkat hingga 100 triliun won atau Rp1.179 triliun, jika gangguan produksi chip memaksa Samsung untuk membuang wafer semikonduktor yang sudah diproduksi.

Namun, serikat pekerja Samsung membantah dampak pemogokan tersebut, dengan menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penghentian produksi sebelumnya terjadi untuk inspeksi peralatan, pemeliharaan, dan penyesuaian proses.

Pernyataan tersebut juga menyebutkan bahwa pemerintah tidak meninjau secara memadai materi bantahan serikat pekerja dan hanya fokus pada klaim manajemen.

Samsung Electronics menyumbang 22,8% dari ekspor Korea Selatan dan 26% dari total kapitalisasi pasarnya. Kantor kepresidenan Seoul juga mengatakan pendapatan Samsung Electronics menyumbang 12,5% dari PDB Korea Selatan.

Para analis telah menyuarakan kekhawatiran tentang risiko konsentrasi di pasar saham Korea Selatan, dengan ketergantungan yang berlebihan pada sekelompok kecil perusahaan yang meningkatkan risiko volatilitas dan kerentanan terhadap guncangan geopolitik, termasuk perlambatan dalam pengeluaran data center.

Pernyataan Kim juga menyusul unggahan X oleh Menteri Keuangan Koo Yun Cheol pekan lalu, yang memperingatkan bahwa "pemogokan tidak boleh terjadi dalam keadaan apa pun."

"Samsung Electronics adalah perusahaan penting yang sedang diperhatikan dunia," tulis Koo. "Mengingat situasi manajemen saat ini dan dampaknya terhadap perekonomian nasional, baik pihak buruh maupun manajemen harus terus berupaya mencapai negosiasi yang berprinsip," ia menuturkan.

Ketua Samsung Lee Jae-yong pada Sabtu (16/5), mengeluarkan permintaan maaf publik yang jarang terjadi kepada pelanggan di seluruh dunia karena menyebabkan kekhawatiran dan kecemasan, menurut laporan media Korea Selatan.

Lebih dari 47.000 pekerja dapat berpartisipasi dalam pemogokan, kata serikat pekerja.

Serikat pekerja juga mengatakan bahwa demonstrasi pada 23 April, yang diikuti oleh 40.000 pekerja, menyebabkan penurunan produksi pabrik sebesar 58% dan penurunan produksi memori Samsung sebesar 18% pada hari itu. Serikat pekerja memperkirakan pemogokan selama 18 hari dapat merugikan Samsung sekitar 30 triliun won atau setara Rp353 triliun.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Modal & Jurus Ekspansi RI Jadi Hub Data Center ASEAN Era AI