Kejayaan Nvidia Bisa Tamat, Muncul Pengganti Lebih Canggih

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Senin, 18/05/2026 19:30 WIB
Foto: REUTERS/Florence Lo

Jakarta, CNBC Indonesia - Dominasi Nvidia di industri chip kecerdasan buatan (AI) mulai mendapat ancaman. Pendatang baru bernama Cerebras Systems muncul sebagai pesaing kuat.

Cerebras langsung mencuri perhatian Wall Street usai debut di bursa saham Amerika Serikat pada Kamis lalu. Perusahaan tersebut menutup perdagangan perdana dengan kapitalisasi pasar mendekati US$100 miliar, menjadikannya salah satu IPO teknologi terbesar dalam sejarah.


Cerebras memproduksi jenis chip yang berbeda dari GPU klasik Nvidia. Ukurannya bahkan disebut sebesar piring makan.

"Kami membangun chip terbesar di industri semikonduktor," kata CEO sekaligus pendiri Cerebras, Andrew Feldman, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (18/5/2026).

"Chip besar memproses lebih banyak informasi dalam waktu lebih singkat dan memberikan hasil lebih cepat," imbuhnya.

Selama ini Nvidia memimpin perlombaan chip AI karena GPU buatannya berfungsi sebagai mesin komputasi serbaguna yang unggul dalam perhitungan paralel untuk melatih model AI besar.

Namun kini industri memasuki era "agentic AI", di mana proses inference atau pengambilan keputusan AI menjadi makin penting.

Chip andalan mereka, WSE-3, masuk kategori ASIC atau chip khusus untuk tugas tertentu. Cerebras mengklaim chip tersebut memiliki ukuran 57 kali lebih besar dibanding GPU terbesar saat ini dan memiliki transistor 50 kali lebih banyak.

Persaingan chip AI kini juga semakin panas karena sejumlah raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Meta, hingga Microsoft mulai mengembangkan chip ASIC mereka sendiri.

Tak hanya menjual chip, Cerebras juga mengoperasikan data center berbasis cloud sendiri untuk layanan AI. Langkah ini membuat mereka berhadapan langsung dengan pemain besar seperti Microsoft, Google, Oracle, dan CoreWeave.

Permintaan terhadap layanan AI Cerebras bahkan disebut melonjak tajam. CFO Cerebras, Bob Komin, mengatakan kapasitas perusahaan saat ini sudah habis terjual hingga 2027.

"Untuk produk inference cepat kami, permintaannya sangat tinggi hingga tantangan terbesar kami justru bagaimana memenuhi pasokannya. Kami menambah kapasitas manufaktur dan pusat data semaksimal mungkin, namun produk kami tetap habis terjual hingga 2027," kata Komin.

Cerebras sebelumnya juga mengumumkan kerja sama cloud AI senilai US$20 miliar dengan OpenAI hingga 2028. Sementara Amazon Web Services mulai menggunakan chip Cerebras di pusat datanya sejak Maret lalu.

Selain Cerebras, sejumlah perusahaan lain seperti Groq, SambaNova Systems, hingga D-Matrix juga mulai memanfaatkan lonjakan permintaan chip AI global.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: CEO Nvidia Ikut Lawatan Trump ke China Bahas Bisnis & Chip AI