Warga Jakarta yang Hobi Makan Kepiting-Kerang Harus Tahu Warning BRIN
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan lima jenis logam berat di Teluk Jakarta, yakni seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd).
Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani mengatakan berdasarkan analisis ditemukan seng ditemukan jadi salah satu yang paling dominan di sana. Selain itu timbal dan tembaga juga melebihi ambang batas dari standar internasional di sejumlah lokasi.
"Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan [bentik] yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen," kata Idha, dikutip Selasa (12/5/2026).
Dia menjelaskan Teluk Jakarta mengalami tekanan lingkungan signifikan karena aktivitas antropogenik, karena pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jabodetabek.
Salah satu indikator tekanan adalah temuan pencemaran logam berat pada sedimen dasar laut, yang berperan menyimpan sejumlah polutan dalam perairan. Logam berat terbawa dari sungai, limbah domestik, industri dan aktivitas pelabuhan akan mengendap dan terakumulasi di dasar perairan.
Aktivitas manusia di daratan juga disebut jadi faktor utama masuknya polutan ke wilayah pesisir. Misalnya melalui aktivitas pelabuhan dan perkapalan, limbah industri, aliran sungai yang membawa limbah domestik perkotaan, limpasan kawasan padat penduduk, dan residu dari aktivitas pertanian.
Lestari selaku peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN telah menilai tingkat risiko logam berat di Teluk Jakarta dengan metode Risk Assessment Code (RAC). Ditemukan Zn berpotensi tinggi terserap oleh organisme laut dan masuk ke rantai makanan, sedangkan Cu dan Pb lebih stabil dan risiko relatif rendah, namun tetap berpotensi terserap organisme.
"Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya. Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang," jelasnya.
Manusia juga berpotensi mengalami risiko non-karsinogenik. Khususnya karena akumulasi kadmium pada jaringan kerang hijau.
"Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut," kata periset dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari.
Untuk mengatasi masalah ini, berikut beberapa upaya dari hulu hingga hilir:
- Melakukan pengendalian limbah industri
- Peningkatan sistem pengolahan air limbah domestik
- Pengawasan kualitas sungai yang bermuara ke teluk
- Pemantauan rutin cemaran pada sedimen dan biota laut
- Edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan pesisir serta pengaturan konsumsi hasil laut.
(dem/dem) Add
source on Google