Bukan Drone, Ini Senjata Baru Iran Serang Amerika-Israel Bertubi-tubi

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Senin, 11/05/2026 21:01 WIB
Foto: Warga Iran memadati jalan-jalan ibu kota Teheran pada Selasa (21/4/2026), bertepatan dengan pameran persenjataan rudal balistik oleh militer. (Tangkapan Layar Video Reuters/POOL via WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mulai mengubah strategi perang informasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan budaya pop Barat untuk menyerang Amerika Serikat dan Israel di media sosial.

Video-video tersebut diproduksi oleh kelompok pro-Iran dan sejumlah misi diplomatik Teheran ramai menyebarkan video AI bergaya Lego yang menampilkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam berbagai parodi satir.

Salah satu video viral menggambarkan Trump sebagai bajak laut dalam versi Lego film "Pirates of the Caribbean".


Dalam video tersebut, pasukan AS diceritakan gagal membuka Selat Hormuz dan memblokade pelabuhan Iran karena kapal-kapal mereka justru tenggelam.

Video lain memperlihatkan Trump berkeringat ketakutan saat Iran melancarkan serangan balasan. Netanyahu juga kerap digambarkan sebagai sosok yang mengendalikan kebijakan Amerika Serikat.

Konten-konten itu dinilai menjadi bagian dari strategi baru perang informasi Iran yang kini lebih agresif dan menyasar audiens global, khususnya dunia Barat.

Pakar media Iran dari Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Narges Bajoghli, mengatakan strategi tersebut sengaja dirancang agar mudah viral di media sosial.

"Konten yang mereka produksi menggunakan bahasa dan percakapan yang sebenarnya sudah berlangsung baik di kubu kiri maupun kanan," ujar Bajoghli, dikutip dari Wall Street Journal, Senin (11/5/2026).

"Mereka menemukan bahwa jika kontennya cukup lucu dan cerdas, maka bisa menjadi viral," lanjutnya.

Iran memakai format hiburan populer, meme internet, hingga referensi film Hollywood.

Sebagian besar video tersebut diproduksi oleh kelompok bernama Explosive Media, yang sebelumnya dikenal sebagai Akhbar Enfejari atau "Explosive News". Kelompok itu mengklaim bekerja independen, namun diduga mendapat dukungan pemerintah Iran.

Sejumlah kedutaan besar Iran dan media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran juga ikut membantu menyebarkan konten tersebut di media sosial.

Revolusi ideologi

Selama bertahun-tahun, Iran kesulitan menjelaskan ideologi dan posisinya kepada audiens Barat. Sebelumnya, Iran mengandalkan narasi serius yang diambil dari simbol-simbol kemartiran dalam Islam Syiah dan simbol anti-Amerika ala Revolusi 1979.

Namun pendekatan tersebut tidak efektif di pasar global. Pemimpin Iran kemudian menyadari gaya propaganda mereka tidak berhasil.

Garda Revolusi mulai berinvestasi di perusahaan produksi media sekitar satu dekade lalu untuk menciptakan konten pro-Iran yang lebih sesuai dengan audiens muda dan global.

Menurut Bajoghli, pendekatan baru itu awalnya sempat ditentang kelompok konservatif lama. Namun penolakan tersebut hilang setelah perang pecah pada akhir Februari dan banyak pemimpin senior Iran tewas.

"Kali ini lampu hijau benar-benar diberikan kepada generasi muda untuk memproduksi konten seperti ini. Dan mereka menggunakan budaya pop global untuk melakukannya," ujar Bajoghli.

Direktur senior Institute for Strategic Dialogue, Bret Schafer, mengatakan interaksi akun-akun pro-Iran melonjak tajam sejak perang dimulai.

"Kami melihat akun-akun itu mendapatkan daya tarik yang biasanya hanya dimiliki figur besar," kata Schafer.

Menurut dia, tingkat interaksi akun pro-Iran meningkat hingga 30 kali lipat dibanding sebelum perang berlangsung.

"Semua ini berakar pada strategi mengejek Trump dan Amerika Serikat. Mereka tidak lagi memandang komunikasi secara terlalu serius," tegasnya.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Fortinet Accelerate 2026: Memimpin Keamanan Siber di Era AI