Fenomena Warga Konsultasi Kesehatan ke Influencer, Perhatikan Hal Ini

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
08 May 2026 18:20
Influencer dengan bayaran tertinggi
Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Di era digital, kebanyakan orang tak lagi mencari dokter atau praktisi profesional di dunia nyata untuk melakukan konsultasi kesehatan. Mereka memilih untuk membuka media sosial dan menyerap informasi-informasi dari influencer.

Temuan ini berasal dari Pew Research Center di Amerika Serikat (AS). Riset dilakukan dengan mengidentifikasi 6.828 individu dengan pengikut (followers) setidaknya berjumlah 100 ribu di YouTube, TikTok, atau Instagram. Mereka rutin mengunggah tips kesehatan dan kebugaran.

Dari hasil riset tersebut ditemukan 4-dari-10 masyarakat dewasa di AS, dan setengah di bawah usia 50 tahun, mendapatkan informasi kesehatan dan kebugaran dari influencer media sosial atau podcast.

Dalam laporan yang sama juga terungkap alasan masyarakat saat ini cenderung mendapatkan informasi dari influencer. Sebanyak 41% warga AS memiliki motivasi utama untuk mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Sementara itu, sepertiga masyarakat berusia 18-29 tahun mencari informasi kesehatan sebagai konten hiburan.

Namun, informasi soal kesehatan dan kebugaran bukan sengaja dicari. Sebagian besar mengaku terpapar informasi tersebut lewat algoritma di media sosial. 

Studi ini juga menyoroti perbedaan informasi dari influencer dan penyedia layanan kesehatan profesional. Hasilnya, 1-dari-5 orang mengatakan informasinya berbeda dan sekitar 38% mengatakan tidak terlalu berbeda antara keduanya.

Kebanyakan influencer ini berada di platform terkait gambar atau video, bukan teks. Paling banyak bisa ditemukan Instagram (86%), selain itu juga TikTok (62%) dan YouTube (45%).

Sebanyak 41% influencer menyebut dirinya berprofesi sebagai perawatan kesehatan dalam profilnya. Ini termasuk profesional medis konvensional seperti dokter, dokter gigi, dan perawat.

Ada juga profesi seperti terapis, apoteker, praktisi kedokteran, ahli diet, ahli gizi, dan psikiater.

Selain itu, ada juga influencer yang berasal dari pelatih diet hingga kebugaran (31%), pengusaha (28%), dan pernah memiliki pengalaman tertentu untuk meningkatkan kebugaran atau menurunkan berat badan (13%).

Profesi seorang influencer dapat menjadi alasan bagi audiens mereka untuk mempercayainya. Namun, ada 16% influencer kesehatan dan kebugaran di media sosial yang tidak menyebutkan apa pun tentang latar belakang atau keahlian di bio mereka.

Banyak dari profil ini hanya berisi sedikit teks atau menyertakan deskripsi konten yang mereka posting daripada mencantumkan kredensial. Bagi masyarakat yang ingin mencari informasi kesehatan, perlu menjadikan hal ini sebagai pertimbangan atas kredibilitas konten yang dibagikan.

Kebanyakan influencer adalah perempuan (64%) dibandingkan laki-laki (34%). Laporan itu mengungkapkan perbedaan cara mereka melakukan profesinya sebagai influencer.

Sebanyak 16% influencer perempuan cenderung mengutip pengalaman hidup dalam bio akunnya, hampir dua kali lipat dari laki-laki. Perempuan juga menggambarkan diri sebagai orang tua dengan keahlian di bidang atau topik tertentu.

Sementara influencer laki-laki kebanyakan menggambarkan dirinya sebagai tenaga profesional kesehatan (43%) dan pekerja medis konvensional (25%).

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Indonesia Negara Nomor Satu, Warga RI Kalahkan Singapura-Malaysia


Most Popular
Features