Perang Saudara Makin Parah di China, Begini Kondisi Terbaru
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan industri mobil listrik di China kian memanas dan berubah arah. Kini mereka makin kencang menambahkan fitur kecerdasan buatan (AI) yang serupa satu sama lain, sebagai upaya bertahan di tengah perang harga berkepanjangan di pasar otomotif terbesar dunia.
Lebih dari 50 merek mobil di China kini mengadopsi teknologi AI Doubao milik ByteDance. Teknologi ini telah terpasang di 145 model kendaraan dengan total lebih dari 7 juta unit beredar, menunjukkan adopsi masif dalam waktu singkat.
Fenomena ini mencerminkan perubahan strategi industri, dari fokus pada jarak tempuh baterai ke integrasi sistem pintar di dalam kabin kendaraan. Fitur seperti asisten suara, integrasi smartphone, hingga layanan digital berbasis AI kini menjadi standar baru.
Namun di balik inovasi tersebut, tekanan bisnis justru semakin berat. Produsen mobil menghadapi kelebihan kapasitas produksi yang memicu perang harga berkepanjangan.
"Ini akan tetap sulit karena kapasitas produksi sudah ada. Perang harga ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat," ujar CEO proyek Audi-SAIC, Fermín Soneira, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (4/5/2026).
Kondisi ini membuat produsen terjebak dalam siklus kompetisi tanpa diferensiasi yang jelas. Konsultan otomotif AlixPartners mencatat bahwa mayoritas mobil listrik di atas harga 100.000 yuan kini menawarkan fitur yang hampir identik.
"Dengan teknologi, mereka harus terus berlomba karena penyebarannya sangat cepat sehingga sulit mempertahankan keunggulan dalam jangka panjang," ujar Stephen Dyer dari AlixPartners.
Para analis menilai, produsen China mulai menggeser strategi ke pengalaman konsumen di luar kendaraan. Nio, misalnya, menawarkan akses eksklusif ke komunitas dan layanan premium sebagai nilai tambah.
Di sisi lain, raksasa teknologi seperti Alibaba turut memperketat persaingan dengan menghadirkan AI Qwen ke dalam kendaraan.
Sistem ini memungkinkan pengguna melakukan berbagai aktivitas digital langsung dari mobil, mulai dari memesan makanan hingga membeli tiket wisata.
Meski persaingan domestik semakin ketat, produsen China dinilai memiliki peluang besar di pasar global. Fitur yang saat ini menjadi standar di China diperkirakan akan segera diadopsi di pasar global.
(fab/fab) Add
source on Google