2 Gajah dan 1 Harimau Sumatra Ditemukan Mati di Bengkulu
Jakarta, CNBC Indonesia - Harimau Sumatra ditemukan mati di aliran sungai di Provinsi Bengkulu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam setempat langsung melakukan penyelidikan terkait temuan tersebut.
Penemuan warga ini terjadi di SP 4, Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko,
Pihak BKSDA langsung menurunkan tim personel ke lokasi penemuan. Kepala BKSDA Bengkulu Agung Nugroho mengatakan timnya tengah mengklarifikasi informasi dari warga tersebut.
"Informasi sedang diklarifikasi tim ke lapangan," kata Agung Nugroho dikutip dari Detik.com, Senin (4/5/2026).
Kepala Seksi Wilayah I BKSDA, Said Jauhari menambahkan l pihaknya tengah mengecek ke lokasi. Detail laporan temuan tersebut masih dikumpulkan, termasuk penyebab kematian harimau.
"Informasinya kami sudah terima namun laporan detil dari lapangan masih dikumpulkan, termasuk terkait jenis kelamin, di mana lokasinya, hingga apa penyebab matinya harimau tersebut," jelas Said.
BKSDA Bengkulu juga menurunkan dokter hewan. Tujuannya adalah untuk melakukan nekropsi pada harimau Sumatera yang ditemukan di wilayah tersebut.
Sebanyak lima orang tim diturunkan, serta terdapat personel lainnya dari Resor Mukomuko, dan dokter hewan di Puskesmas Ipuh Kabupaten Mukomuko.
Pengecekan masih dilakukan hingga saat ini untuk memastikan penyebab kematian harimau Sumatra.
Di wilayah yang sama, sebelumnya juga ditemukan dua ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang mati misterius. Kematian gajah itu diketahui setelah ada laporan dari masyarakat kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu pada 29 April 2026. Lokasi peristiwa berada di wilayah konsesi PT Bentara Agra Timber (BAT), kawasan Hutan Produksi Air Teramang.
Pada 30 April, tim BKSDA Bengkulu bersama dokter hewan diberangkatkan menuju lokasi guna melakukan verifikasi dan penanganan awal, termasuk persiapan tindakan nekropsi. Konfirmasi visual kemudian diperoleh, yang menunjukkan adanya dua ekor gajah yang mati, terdiri dari satu individu dewasa dan satu individu anakan, yang diduga merupakan induk dan anak, dengan posisi berdekatan. Dari hasil pengamatan awal, kondisi gading kedua satwa tersebut masih utuh.
Hingga saat ini, penyebab kematian kedua gajah tersebut belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil pemeriksaan nekropsi serta analisis laboratorium lebih lanjut.
Pada 1 Mei, tim gabungan yang terdiri dari unsur BKSDA Bengkulu, Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS), serta kepolisian telah berada di lokasi dan sedang melaksanakan prosedur nekropsi sesuai standar penanganan satwa liar dilindungi.
(dem/dem) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]