NASA Blak-blakan Tanda Kiamat, Wilayah RI Dalam Bahaya Besar
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam sebuah penelitian, NASA menemukan peningkatan ketinggian air laut pada 2100 mendatang. Setidaknya ada 10 kota besar di dunia yang berisiko tenggelam, termasuk Jakarta.
Peningkatan itu diperkirakan 3-6 kaki (91,4 cm 182,88 cm). Alasannya karena perubahan iklim yang menyebabkan es di kutub meleleh.
Saat ini, risiko itu sudah mulai terlihat. Salah satunya fenomena banjir yang sering terjadi, misalnya pada beberapa Jabodetabek dan Jawa selama beberapa tahun terakhir.
"Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Masalah ini kian ekstrem, hingga pemerintah Indonesia memilih memindahkan ibu kota [ke IKN]," tulis laporan Sciencing.
Laporan yang sama menyebutkan Jakarta telah mengalami proses tenggelam dengan air naik 17 cm per tahun. Bahkan letaknya secara geografis sudah berada di dataran rendah yang sebelumnya didominasi oleh rawa.
Sciencing juga menyinggung soal pemindahan ibu kota ke IKN pada 2022. Risiko banjir yang terjadi di Jakarta jadi salah satu alasan pemindahan, selain adanya polusi dan penyumbatan di mana-mana.
"Ibu kota baru yang dinamai IKN diprediksi akan rampung sepenuhnya pada 2045. Pada saat itu, IKN kemungkinan menjadi pelarian dari Jakarta yang tenggelam," tertulis dalam laporan Sciencing.
Selain Jakarta, berikut beberapa kota besar lain yang masuk dalam risiko terancam tenggelam:
Alexandria, Mesir
Kota terbesar kedua di Mesir ini menjadi tempat perdagangan transbenua, terutama pengapalan minyak. Salah satunya untuk terminal pipa SUMED, antara Laut Merah dan Mediterania yang digunakan untuk mengirim minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab ke Eropa.
Namun dampak negatif menghantui Alexandria karena penggunaan bahan bakar fosil tersebut. Masyarakat setempat menghadapi mencairnya es gletser, bahkan perkiraan panel iklim PBB, sebanyak 30% kota tersebut dapat terendam air pada tahun 2050 yang membuat 1,5 juta orang mengungsi.
Bahkan banjir juga bisa meluas hingga sebagian besar Delta Nil. Risiko ini dapat menghancurkan salah satu tempat lahirnya peradaban.
Miami, Florida
Lebih dari setengah area Miami-Dade County hanya berada pada ketinggian 6 kaki di atas air laut. Setidaknya 60% wilayah berisiko tenggelam pada 2060 mendatang.
Parahnya, banyak dibangun sejumlah gedung mewah di area pesisir. Bahkan dalam skenario terburuknya, Miami yang tenggelam bisa menjadi bencana alam terburuk sepanjang sejarah dari segi kerusakan ekonomi.
Lagos, Nigeria
Kota terbesar di Afrika juga kerap dilanda banjir pada musim panas. Level tenggelam Lagos mencapai lebih dari 3 inci per tahun.
Dhaka, Bangladesh
PBB telah memasukkan Bangladesh sebagai salah satu dari 10 negara yang terdampak bencana alam. Bahkan Dhaka dinyatakan telah tenggelam setengah inci per tahun.
Kondisi negara itu terus parah karena adanya perubahan iklim, frekuensi dan intensitas banjir yang terus mengkhawatirkan.
Yangon, Myanmar
Yangon juga sering dilanda banjir. Wilayah itu juga terancam karena letaknya dekat dengan Sesar Sagaing, yang bisa membuat sumur air tanah runtuh dan menenggelamkan sebagian besar kota saat adanya gempa bumi besar.
Bangkok, Thailand
Peningkatan air laut terus menerus membuat Bangkok telah kehilangan wilayahnya. Bahkan garis pantainya terus menanjak lebih dalam, sekitar lebih dari 1 km per tahun.
Diperkirakan mayoritas kota akan lenyap dalam satu abad mendatang.
Kolkata, India
Kolkata juga terancam tenggelam karena peningkatan air laut. Masalah lainnya adalah adanya ekstraksi air yanah berlebihan.
Setidaknya lebih dari 10 juta orang terancam mengungsi jika Kolkata terus menerus dilanda banjir.
Manila, Filipina
Manila tercatat terus 'tenggelam' sekitar 4 inci per tahun atau lebih tinggi dari kenaikan level air laut global per tahun. Kota itu juga menghadapi masalah kerusakan hutan mangrove yang harusnya menjadi penghadang erosi di sepanjang Manila Bay.
Tercatat 130 ribu hektar hutan mangrove di wilayah itu telah ditebang sejak memasuki abad ke-20.
Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau
Wilayah ini terkonsentrasi di antara Pearl River Data dan Laut China Selatan. Diperkirakan Pearl River Delta memiliki kenaikan air laut setinggi 5 kaki pada 100 tahun mendatang.
Dengan level tersebut, area ini sangat berisiko tinggi tenggelam di masa depan.
(fsd/fsd) Add
source on Google