Petaka 'Bom Waktu' di AS, Bisa Meledak Kapan Saja Gegara Trump

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 24/04/2026 13:20 WIB
Foto: Uranium. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Presiden Amerika Serikat (AS) menggenjot produksi uranium di dalam negeri, dinilai membawa ancaman serius bagi masyarakat di wilayah Dakota Selatan. Warga sekitar menyebut proyek ini ibarat 'bom waktu' yang bisa sewaktu-waktu meledak.

Sarah Peterson merupakan salah satu warga yang menolak proyek tambang uranium tersebut. Ia tinggal di Hot Springs, kota yang terletak sekitar 50 kilometer dari situs tambang uranium di Dakota Selatan.


Ia juga merupakan pendiri dari kelompok lingkungan bernama 'It's All About the Water'. Menurutnya, masyarakat saat ini tinggal di tempat yang sangat kering.

"Kami tidak bisa hidup di sini tanpa air," ujarnya, dikutip dari Science, Jumat (24/4/2026).

Mulai tahun depan, para engineer berencana mulai mengebor uranium di Dakota Selatan. Ribuan sumur akan menyuntikkan cairan yang telah diolah secara khusus ke dalam formasi batupasir kaya uranium hingga kedalaman 230 meter di bawah tanah.

Cairan tersebut akan melarutkan uranium ke dalam air tanah di sekitarnya. Sumur tambahan akan mengangkat air ke permukaan, kemudian para pekerja akan mengekstrak uranium dan mengubahnya menjadi bentuk terkonsentrasi yang disebut yellowcake.

Yellowcake lalu dimurnikan menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir atau komponen senjata nuklir. Para penambang kemudian akan memompa air limbah jauh ke bawah tanah.

Penambangan uranium besar-besaran ini merupakan bagian dari 'Dewey Burdoct Project'. Proyek itu dimaksudkan untuk membantu memenuhi lonjakan permintaan uranium global.

Pemerintahan Trump telah mempercepat proses persetujuan regulasi untuk tambang ini, sebagai bagian dari upaya untuk menghidupkan kembali industri tenaga nuklir dan pertambangan nasional.

Di seluruh wilayah barat AS, perusahaan-perusahaan merencanakan puluhan tambang uranium lainnya yang menggunakan metode ekstraksi yang sama, yang dikenal sebagai in situ recovery (ISR).

Tambang ISR telah menghasilkan lebih dari setengah uranium dunia dan telah lama disebut-sebut sebagai alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan dibandingkan tambang terbuka dan bawah tanah.

Tambang ini tidak menggali lahan yang luas atau menghasilkan tumpukan besar limbah beracun. Metode ini juga menggunakan lebih sedikit air daripada metode penambangan tradisional.

Terlepas dari keunggulan tersebut, Dewey Burdock Project menuai penolakan keras dan tuntutan hukum dari masyarakat setempat dan suku-suku asli Amerika.

Salah satu kekhawatirannya terkait geologi wilayah yang kompleks, yang memungkinkan air yang terkontaminasi bocor ke akuifer utama untuk memasok air ke masyarakat dan pertanian di seluruh wilayah Black Hills yang terjal di Dakota Selatan.

Kekhawatiran lainnya terkait kecurigaan bahwa proyek tersebut tidak dapat mematuhi peraturan federal yang mengharuskan tambang ISR mengembalikan air tanah ke kondisi sebelum penambangan.

"Ini adalah bom waktu," kata Peterson.

Meskipun perusahaan yang mendukung tambang tersebut, enCore Energy, tidak menanggapi permintaan komentar, perwakilan industri dan regulator federal dinilai meremehkan kekhawatiran kontaminasi dan dampaknya ke masyarakat.

Pemerintah pusat menegaskan bahwa desain tambang tersebut sudah tepat. Namun, konflik ini telah menyoroti penelitian terbaru tentang bagaimana uranium berperilaku di dalam akuifer, dan menimbulkan pertanyaan pelik tentang apakah restorasi akuifer benar-benar berhasil dan efektif.

Para peneliti telah mempelajari, misalnya, bahwa mikroba yang hidup jauh di dalam akuifer memainkan peran kunci dalam mengunci uranium, yang dapat menjelaskan mengapa upaya pasca penambangan untuk menjaga uranium yang tersisa di tempatnya seringkali gagal.

Kendati demikian, penemuan yang sama juga menginspirasi metode restorasi baru yang inovatif yang pada akhirnya dapat digunakan di Dewey Burdock Project dan tempat lain di seluruh dunia.

"Ini sangat rumit," kata Tanya Gallegos, seorang peneliti engineer dari Survei Geologi AS (USGS).

"Makin kita memahami kerumitan ini, kita bisa mengetahui cata mengoptimalkan pemulihan uranium dan restorasi air tanah," ujarnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Smart Living Bantu Pekerjaan Rumah Tangga Hemat Waktu & Energi