50 Tahun Apple, CEO Tim Cook Ungkap Fakta Menyedihkan
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Apple Tim Cook memberikan komentar mengharukan menyambut ulang tahun pembuat iPhone ke-50 tahun. Dia mengenang pendahulunya Steve Jobs dan memberikan banyak pujian.
Cook duduk di posisi pimpinan Apple sejak 2011, sepeninggalan Jobs yang meninggal pada tahun yang sama. Dalam peringatan setengah abad perusahaannya, Cook masih berduka ditinggal Jobs menjelaskan soal prinsip penting sang pendiri.
"Saya sering memikirkannya, dan dalam beberapa bulan terakhir, khususnya saat memperingati ulang tahun ke-50, saya makin sering memikirkannya. Anda memikirkan hal-hal yang diyakini. Dia percaya pada hal-hal sederhana, bukan yang kompleks. Dia percaya pada kolaborasi, jika Anda menyatukan sekelompok kecil orang, hasil kerja kelompok kecil itu akan jauh lebih besar dari hasil kerja individu manapun di antara mereka," jelasnya, dikutip dari 9to5mac, Kamis (2/4/2026).
Dia juga menyebut Apple sebagai perusahaan milik Jobs. Bahkan Jobs bakal tetap menjadi ketua eksekutif Apple selamanya setelah mundur sebagai CEO.
"Jika melihat ke belakang, saya tahu seseorang mungkin berkata, bagaimana Anda bisa berpikir seperti itu mengingat keadaannya?" ucap Cook.
Dalam peringatan ke-50 Apple, Cook juga menyinggung soal hubungan Apple dengan pemerintahan Amerika Serikat yang kini dipimpin Donald Trump.
Salah satunya perbedaan pemerintahan saat ini dengan presiden lainnya. Menurut Cook, pemerintahan Trump sangat mudah diakses.
Pria 65 tahun itu juga mengatakan pemerintahan Trump membiarkannya tetap berbicara. Suara masyarakat dipastikan didengar.
"Jadi Anda bisa berbicara dengan mereka mengenai sudut pandang Anda soal berbagai hal. Mereka mungkin tidak setuju, namun Anda bisa terlibat. Suara Anda bisa didengar. Pada akhirnya, mungkin tidak bisa meyakinkan mereka," kata Cook.
Lebih lanjut, dia menegaskan keterlibatan Apple di seluruh dunia, bukan hanya AS, sangat penting. Meski ada cara pandang yang berbeda, menurutnya satu-satunya cara untuk bisa saling mengerti satu sama lain adalah dengan komunikasi dan duduk bersama.
"Setiap negara memiliki kisahnya sendiri. Tiap orang memandang sesuatu secara berbeda. Dan satu-satunya cara memahami hal itu dengan duduk di hadapan seseorang dan komunikasi, dan terlibat," dia menambahkan.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]