Kejayaan Raksasa China Mulai Runtuh di 2026, Ini Buktinya

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 19:10 WIB
Foto: Seorang pria berjalan dengan logo Huawei di sebuah pusat perbelanjaan di Shanghai, Cina 6 Desember 2018. REUTERS / Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Huawei digadang-gadang sebagai salah satu 'tumpuan' China untuk melepas ketergantungan chip kecerdasan buatan (AI) buatan Nvidia dari Amerika Serikat (AS).

Saat chip Nvidia dilarang keras di China, Huawei menjadi salah satu perusahaan yang digadang-gadang akan menangkap peluang besar melalui produk chip AI Ascend. Hal ini juga disokong dukungan pemerintah yang meminta perusahaan-perusahaan China beralih dari chip buatan AS ke chip domestik.


Kendati demikian, kejayaan Huawei nyatanya tak segarang yang selama ini digaungkan. Huawei masih kesulitan menyaingi Nvidia di bidang chip AI.

Dalam laporan terbaru, pendapatan perusahaan belum menghasilkan peningkatan seperti para pesaingnya, termasuk di dalam negeri. Pendapatan komputasi cloud dari pelanggan eksternal turun 3,5% menjadi 32,16 miliar yuan (Rp 79,3 triliun) pada 2025, dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (1/4/2026).

Segmen infrastruktur TIK utama perusahaan mengalami pertumbuhan pendapatan yang melambat, dari 4,9% pada 2024 menjadi 2,6% tahun lalu. Total pendapatan TIK pada 2025 mencapai 375,01 miliar yuan (Rp925,5 triliun).

CNBC Internasional mencatat segmen ini mencakup solusi chip AI Ascend yang dikembangkan sendiri oleh Huawei. Seharusnya unit itu bisa digunakan untuk menyaingi Nvidia.

Sementara itu, pendapatan cloud secara keseluruhan, termasuk untuk pelanggan internal, meningkat 4,8% menjadi 72,8 miliar yuan (Rp179,7 triliun).

Penurunan pendapatan ini terjadi saat ByteDance mengantongi pertumbuhan pesat untuk bisnis cloud AI. Padahal, perusahaan induk TikTok itu memulainya dari basis yang kecil.

Pelan-pelan, ByteDance mulai gencar meningkatkan perkembangan AI untuk perusahaannya. Salah satunya dilaporkan meningkatkan akses ke chip kelas atas Nvidia untuk pusat data yang dibangun di Malaysia.

Selain itu, Reuters melaporkan perusahaan bekerja sama dengan Alibaba untuk memesan chip AI baru Huawei. ByteDance sendiri menolak berkomentar.

Hubungan kurang baik antara AS dan China membuat masing-masing negara menerapkan aturannya sendiri untuk chip. AS membatasi akses penggunaan chip Nvidia untuk perusahaan China, sementara Beijing mendesak untuk kemandirian teknologi secara lokal.

Kekuatan AI di kedua negara juga terus bersaing. Namun memang perangkat AI yang dikembangkan AS masih dianggap yang paling mumpuni di dunia.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Masif Adopsi AI & Cloud di Perusahaan, Waspada Risiko Keamanan Data