Penelitian Ungkap Dunia Tanpa HP, Lebik Bahagia atau Malah Suram?

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
01 April 2026 08:30
Sejumlah anak memainkan ponsel mereka sesuai pulang sekolah di Jakarta, Senin (30/3/2026). Pemerintah resmi melarang anak di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial mulai 28 Maret 2026 berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang merupakan turunan dari PP Tunas. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Sejumlah anak memainkan ponsel mereka sesuai pulang sekolah di Jakarta, Senin (30/3/2026). Pemerintah resmi melarang anak di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial mulai 28 Maret 2026 berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang merupakan turunan dari PP Tunas. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak smartphone, internet dan media sosial muncul, ada banyak teori yang menyebut keburukan ketiganya. Namun benarkah itu semua?

Artikel berjudul Is the Smartphone Theory of Everything Wrong? A Comprehensive Investigation yang ditulis Derek Thompson mencoba menjawab itu. Profesor di NYU, Arpit Gupta pernah menyebut Smartphone theory of Everything. Ini terkait penyakit mental, adiksi pada judi, hingga bubble informasi terbaru.

Namun tak mudah untuk mendapatkan jawaban yang pasti soal hal tersebut. Seorang ekonom Stanford bernama Matthew Gentzkow mengatakan sulit untuk mendapatkan bukti soal dampak jangka panjang dari smartphone dan media sosial.

"Mengulang sejarah tanpa iPhone atau Facebook bukan eksperimen yang layak. Eksperimen acak yang bisa dilakukan umumnya adalah intervensi terbatas jangka pendek, dan analisa data observasional dalam jangka waktu yang lebih panjang menghadapi rintangan besar saat menyimpulkan kausalitas," jelasnya dikutip artikel Derek Thompson, Selasa (31/3/2026).

Artikel itu juga mengatakan smartphone bukan seperti rokok, perbandingan yang kerap dilakukan banyak orang. Menurut artikel tersebut, setiap orang merokok rokok yang berbeda atau diartikan sebagai memiliki pengalaman online yang berbeda.

Penelitian soal smartphone juga sulit dilakukan karena efeknya akan terlihat berbeda, memiliki dampak kecil pada sebagian besar populasi dan sebaliknya dampak besar untuk sebagian kecil populasi.

Artikel tersebut juga mencontohkan banyak orang yang melebih-lebihkan pengaruh ponsel pada disinformasi, tetapi meremehkan dampak pada informasi. Contohnya pada sebuah penelitian Gentzkow yang menggunakan sekitar 1.700 warga AS untuk menonaktfikan Facebook selama empat minggu sebelum pemilihan paruh waktu 2018.

Hasilnya mereka yang keluar dari Facebook lebih bahagia, kurang cemas dan terpolarisasi secara politik. Temuan itu membuat banyak pihak melihat smartphone dan media sosial sebagai masalah utama.

Namun, perlu dicatat orang yang tidak menggunakan akun atau menonaktifkan akun juga secara umum tidak mengetahui apa yang terjadi di dunia.

Pada dasarnya, smartphone adalah sistem penyampaian informasi. Di sana terdapat informasi yang mengalir dan tak bisa dihindari seperti dari berita, koneksi, hingga persahabatan yang berdampak pada tiap individu.

Jika smartphone membuat orang AS cenderung depresi, berteori konspirasi dan cemas, kemungkinan karena berita menjadi sangat depresif, penuh teori konspirasi, dan kecemasan.

Artikel itu juga mengatakan masalah smartphone adalah apa yang tidak ada di dalam perangkat itu.

Penelitian tahun 2025 menemukan akses internet yang dihapus secara acak dari smartphone berdampak positif pada kesehatan mental yang meningkat, kesejahteraan dan mempertahankan perhatian. Namun, dampak positif ini bukan karena hilangnya dampak smartphone. 

Tanpa smartphone, mereka lebih aktif bersosialisasi, olah raga, dan menikmati alam.

(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bahaya Anak Usia 12 Tahun Punya HP Diungkap Peneliti, Ortu Wajib Tahu


Most Popular
Features