Lebih 1 Dekade Ratusan Hiu Terdampar ke Laut Selatan Jawa, Tanda Apa?

Mentari Puspadini, CNBC Indonesia
Sabtu, 28/03/2026 08:45 WIB
Foto: Kondisi hiu tutul yang terdampar lalu mati di Pantai Welahan Wetan, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Kamis (26/6/2025). (Dok. Detikcom/Anang Firmansyah/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena ratusan hiu paus yang masuk hingga terdampar di pesisir selatan Jawa dalam lebih dari satu dekade terakhir memunculkan kekhawatiran serius. Tren ini dinilai sebagai sinyal adanya gangguan pada ekosistem laut Indonesia.

Hal ini sebagaimana dilaporkan dalam riset peneliti Elasmobranch Institute Indonesia Edy Setyawan dan oseanografer Konservasi Indonesia Mochamad Iqbal Herwata Putra yang dituangkan dalam tulisan berjudul Mengapa ratusan hiu paus terdampar di Selatan Jawa dalam 13 tahun terakhir? Riset kami temukan jawabannya, yang tayang di The Conversation pada 18 Maret 2026.

Hiu paus (Rhincodon typus) dikenal sebagai ikan terbesar di dunia dengan panjang yang dapat mencapai 20 meter. Namun, dalam tiga generasi terakhir atau sekitar 120 tahun, penurunan subpopulasi di Indo-Pasifik telah terjadi hingga 50-79%.


Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, sebanyak 115 kejadian hiu paus terdampar di 23 provinsi berhasil dicatat selama 13 tahun. Sebanyak 127 individu ditemukan terdampar sepanjang 2011-2023, dengan 80 di antaranya dilaporkan telah mati.

Jumlah tersebut bahkan melampaui total kasus global yang sebelumnya dihimpun selama 141 tahun di berbagai negara. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kasus di Indonesia terjadi secara signifikan dalam waktu relatif singkat.

Berdasarkan analisis spasial, pesisir selatan Jawa diidentifikasi sebagai titik utama keterdamparan hiu paus. Hampir setengah kasus tercatat di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sebagian besar kejadian tidak terjadi secara massal, melainkan satu per satu individu yang terjebak di perairan dangkal. Lebih dari 90% kasus dilaporkan sebagai keterdamparan tunggal.

Yang lebih mengkhawatirkan, mayoritas hiu paus yang terdampar merupakan individu muda berukuran 4-7 meter. Padahal, kematangan reproduksi baru dicapai hiu paus jantan pada ukuran sekitar 8-9 meter, sementara betina membutuhkan ukuran yang lebih besar lagi.

Akibatnya, setiap kematian individu muda berpotensi mengurangi generasi masa depan. Kondisi ini dapat memperlambat pemulihan populasi yang secara alami memang berlangsung sangat lambat.

Fenomena ini dijelaskan oleh dinamika laut di selatan Jawa, khususnya saat angin musim tenggara berlangsung pada Juni hingga November. Pada periode ini, fenomena upwelling dipicu sehingga air dingin dari kedalaman sekitar 1.000 meter naik ke permukaan membawa nutrien.

Ledakan plankton dan ikan kecil kemudian terjadi akibat peningkatan kesuburan perairan. Kondisi ini menarik hiu paus, terutama yang masih muda, untuk mendekati pesisir saat mencari makan.

Saat mangsa dikejar, perairan dangkal tanpa disadari dimasuki oleh hiu paus hingga akhirnya terjebak. Selain itu, dorongan gelombang tinggi turut memperparah situasi dengan mendorong tubuh hiu paus ke arah pantai.

Di sisi lain, faktor aktivitas manusia juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko keterdamparan. Pencemaran dari limbah tambak, pertanian, domestik, hingga sampah plastik disebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada hiu paus.

Paparan zat beracun dapat melemahkan kondisi tubuh hiu paus hingga akhirnya terdampar. Bahkan, keberadaan plastik di lambung hiu paus yang mati telah ditemukan dalam sejumlah riset di berbagai negara.

Hasil uji jaringan pada kasus di Kebumen tahun 2023 juga menunjukkan adanya indikasi kerusakan organ. Dugaan kuat mengarah pada paparan zat toksik dari pencemaran pesisir, termasuk limbah tambak udang.

Interaksi dengan alat tangkap seperti jaring pantai turut meningkatkan risiko cedera dan stres pada hiu paus. Kondisi tersebut membuat hiu paus menjadi lebih rentan terdampar di perairan dangkal.

Secara keseluruhan, terdamparnya hiu paus dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Dinamika laut, pencemaran, serta tekanan aktivitas pesisir berperan secara bersamaan dalam fenomena ini.

Peningkatan kasus ini juga menjadi indikator bahwa kesehatan ekosistem laut sedang terganggu. Sebagai pemakan plankton, pergerakan hiu paus mencerminkan kondisi produktivitas dan stabilitas lingkungan laut.

Sayangnya, penanganan yang dilakukan masih cenderung bersifat reaktif setelah kejadian terjadi. Padahal, pola ruang dan waktu tedamparnya telah teridentifikasi sehingga langkah pencegahan seharusnya bisa dilakukan lebih awal.

Upaya proaktif seperti penguatan tim respons cepat, investigasi ilmiah, dan pelibatan masyarakat pesisir dinilai perlu segera dilakukan. Dengan langkah tersebut, potensi penyelamatan dan pencegahan dapat ditingkatkan.

Secara geografis, Indonesia memiliki peran penting karena menjadi jalur migrasi hiu paus antara Samudra Hindia dan Pasifik. Dengan demikian, kondisi perairan Indonesia akan berdampak langsung pada keberlanjutan populasi hiu paus regional.

Para ilmuwan memperkirakan pemulihan populasi hiu paus membutuhkan waktu hingga satu abad. Jika tren terdamparnya ikan-ikan ini terus meningkat, peluang pemulihan tersebut akan semakin kecil.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem laut. Laut yang selama ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda berisiko kehilangan salah satu spesies kunci di dalamnya.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Perkuat Fintech, Infrastruktur Pembayaran Dorong Ekonomi Digital RI