Perang Menggila, FBI Peringatkan Serangan Langsung Iran ke Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengeluarkan peringatan darurat kepada aparat kepolisian di California, AS, terkait potensi serangan drone yang diduga akan dilancarkan Iran ke wilayah tersebut.
Peringatan itu mengatakan Teheran mempertimbangkan mengerahkan pesawat tanpa awak dari kapal tak dikenal di lepas pantai Amerika Serikat. Informasi intelijen itu diperoleh FBI pada awal Februari 2026.
Dalam peringatannya, FBI menyatakan Iran diduga berencana melakukan serangan mendadak menggunakan drone terhadap target yang belum ditentukan di California apabila Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
"Kami baru-baru ini memperoleh informasi bahwa pada awal Februari 2026, Iran diduga berniat melakukan serangan mendadak menggunakan kendaraan udara tanpa awak dari sebuah kapal yang tidak dikenal di lepas pantai wilayah Amerika Serikat, khususnya terhadap target yang belum ditentukan di California," tulis FBI dalam peringatan tersebut, dikutip dari NewYork Post, Senin (16/3/2026).
Namun FBI menegaskan pihaknya belum memiliki informasi tambahan terkait waktu, metode, maupun target pasti dari potensi serangan itu.
Peringatan tersebut dikirim ke berbagai departemen kepolisian di California, meski tidak menjelaskan lokasi spesifik yang berpotensi menjadi sasaran.
California sendiri merupakan negara bagian dengan populasi pembangkang Iran terbesar di Amerika Serikat, mencapai sekitar 500.000 orang.
Gubernur California Gavin Newsom mengakui adanya ancaman serius setelah menerima laporan dari FBI.
"Masalah drone telah menjadi perhatian utama. Kami telah mengetahui informasi tersebut dan bekerja secara kolaboratif dengan Pusat Operasi Negara Bagian," kata Newsom.
Meski demikian, dia mengaku belum membahas isu tersebut secara langsung dengan Presiden Donald Trump.
Di sisi lain, Trump justru menyatakan tidak khawatir dengan ancaman serangan Iran di wilayah Amerika Serikat. "Tidak, saya tidak (khawatir)," kata Trump saat ditanya wartawan.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Washington bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran hampir dua minggu lalu. Konflik tersebut memicu aksi balasan Teheran serta ancaman terhadap kepentingan Amerika di berbagai wilayah.
Pada hari yang sama, konflik juga terlihat di Selat Hormuz. Setidaknya tiga kapal dilaporkan diserang di jalur perdagangan vital tersebut.
Salah satu kapal yang terdampak adalah kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, yang mengalami kebakaran di ruang mesin utama sehingga memaksa awak kapal dievakuasi.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tersebut.
IRGC menyatakan kapal itu "mengabaikan peringatan" Iran untuk menjauhi Selat Hormuz.
"Setiap kapal yang berniat melintas harus memperoleh izin dari Iran. Para agresor Amerika dan mitra mereka tidak memiliki hak melintas," tulis IRGC dalam unggahan media sosial.
Serangan tersebut mendorong Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengeluarkan peringatan kepada warga sipil agar menjauhi fasilitas pelabuhan di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, dua kapal lainnya yang diserang adalah kapal kontainer berbendera Jepang One Majesty dan kapal berbendera Kepulauan Marshall Star Gwyneth.
Meski kedua kapal mengalami kerusakan, seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Berdasarkan catatan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), insiden tersebut menandai peningkatan signifikan serangan terhadap kapal di kawasan sejak konflik dimulai, dengan total 13 serangan tercatat sejak 28 Februari.
Eskalasi juga terjadi di kawasan Teluk dan Dubai. Iran dilaporkan meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone ke berbagai wilayah.
Setidaknya dua drone dilaporkan menghantam area dekat Bandara Internasional Dubai dan menyebabkan empat orang terluka.
Media pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari operasi paling intens sejak perang dimulai.
(fab/fab) Add
source on Google