Perang Meluas, Iran Lumpuh Dihantam Serangan Brutal AS-Israel
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan yang dimulai Israel dan Amerika Serikat (AS) kepada Iran pada akhir pekan lalu tak hanya terjadi di dunia nyata. Jaringan internet Iran juga dipenuhi gelombang peretasan.
Serangan tersebut terjadi di situs web berita dan sebuah aplikasi kalender keagamaan dengan lebih dari 5 juta unduhan. Aplikasi bernama Badesaba dilaporkan diretas dan muncul pesan kepada pengguna berbunyi 'saatnya pembalasan'.
Pesan itu mendesak angkatan bersenjata menyerahkan senjata dan bergabung dengan masyarakat untuk melakukan kudeta pemerintahan.
Peneliti keamanan dan pendiri DarkCell, Hamid Kashfi menyebut serangan pada BadeSaba adalah langkah yang cerdas. Sebab pendukung pemerintah setempat cenderung menggunakannya dan lebih religius.
Sementara itu, operasi siber juga menyerang sejumlah layanan pemerintah Iran dan target militer. Laporan Jerusalem Post menyebutkan serangan dilakukan untuk membatasi respons terkoordinasi dari Iran, dikutip dari Reuters, Senin (2/3/2026).
Direktur intelijen ancaman di Sophos, Rafe Pilling mengaatakan aktivitas peretas akan mengambil alih serangan, termasuk serangan yang menargetkan militer hingga sipil Israel yang terkait AS secara siber.
"Saat Iran mempertimbangkan berbagai opsi, kemungkinan meningkatnya kelompok proksi dan aktivis peretas akan mengambil tindakan, khususnya serangan siber dengan target militer, komersial, atau sipil Israel dan berafiliasi dengan AS," jelasnya.
Bentuk serangan bisa berupa pelanggaran data lama seperti upaya baru. Selain itu juga mencakup operasi siber ofensif secara langsung.
Reuters tidak dapat menghubungi kepala eksekutif BadeSaba. Seorang juru bicara Komando Siber AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Internet Iran Lumpuh
Konektivitas internet di Iran anjlok tajam pada pukul 07.06 GMT, dan kemudian lagi pada pukul 11.47 GMT, dengan hanya konektivitas minimal yang tersisa, kata Doug Madory, direktur analisis internet di Kentik, dalam sebuah unggahan di X.
Dari sisi Iran juga nampaknya tidak ingin kalah. Sejumlah tokoh-tokoh siber pro-Iran dikabarkan mulai bangkit.
Wakil presiden senior Halcyon, Cynthia Kaiser mengatakan pihaknya telah melihat seruan bertindak dari para tokoh tersebut. Tokoh-tokoh siber ini dikenal melakukan sejumlah operasi peretasan dan kebocoran data, ransomware, serta serangan DDoS yang melumpuhkan internet.
Menurut wakil presiden operasi kontra musuh CrowdStrike, Adam Meyers, serangan yang terjadi saat ini mungkin menjadi awal operasi yang lebih agresif nantinya. Perusahaan itu juga telah mendeteksi aktivitas dari peretas terkait Iran untuk melakukan serangan.
"CrowdStrike telah melihat aktivitas yang konsisten dengan aktor ancaman dan kelompok aktivis peretas yang bersekutu dengan Iran melakukan pengintaian dan melancarkan serangan DDoS," kata Meyers.
(fab/fab) Add
source on Google