PBB Buka-bukaan Tanda Kiamat, Kekeringan Sudah Level Parah

Redaksi,  CNBC Indonesia
01 March 2026 13:15
Sebuah botol plastik berdiri di atas tanah yang kering dan retak, di cekungan Bendungan Turkmenli yang kering, tempat air pernah menenggelamkan lanskap, di Marmara Ereglisi, di provinsi Tekirdag barat laut, Turki, 11 Agustus 2025. (REUTERS/Murad Sezer)
Foto: Sebuah botol plastik berdiri di atas tanah yang kering dan retak, di cekungan Bendungan Turkmenli yang kering, tempat air pernah menenggelamkan lanskap, di Marmara Ereglisi, di provinsi Tekirdag barat laut, Turki, 11 Agustus 2025. (REUTERS/Murad Sezer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda kiamat makin jelas terlihat di Bumi. Krisis air yang menyebabkan kekeringan sudah berada di level yang mengkhawatirkan.

Dalam laporan yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), pasokan air disebutkan makin tipis dan kekeringan tak bisa lagi dihindari.

Menurut PBB, tiga dari empat orang tinggal di negara yang menghadapi kekurangan air, kontaminasi atau kekeringan. Sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air dalam satu bulan per tahunnya.

Laporan Kaveh Madani dari UN University Institute for Water, Environment and Health (INWEH) menyebutkan kondisi ini dalam sebuah sebutan keuangan. Misalnya rekening air di permukaan tengah dikosongkan dan tabungan air dari manusia seperti air tanah hingga gletser tengah terkuras.

Dengan krisis air yang terjadi di sejumlah wilayah dunia menjadi tanda dalam peringatan akan adanya 'kebangkrutan', dikutip dari Earth.com, Minggu (1/3/2026).

Salah satu penyebab fenomena ini adalah perluasan wilayah pertanian dan perkotaan ke daerah kering. Kembali pemanasan global juga menjadi alasan lain.

Ini dikarenakan pemanasan global membuat daerah yang kering menjadi semakin kering dan meningkatkan penguapan. Fenomena tersebut membuat curah hujan juga terus berkurang.

Kekurangan air juga dinilai Madani dapat berdampak lebih luas, hingga ketidakstabilan sosial dalam sebuah negara. Misalnya memicu langkah migrasi, konflik dan keresahan.

Salah satunya terjadi protes kekerasan di Iran. Saat sistem air gagal, membuat lapangan kerja dan kehidupan sehari-hari ikut gagal dan stabilitas politik sulit untuk dipertahankan.

Laporan serupa juga menyoroti negara yang memiliki banyak pasokan air mengalami masalah serupa. Karena dampaknya berasal dari pusat data yang banyak mengonsumsi air, begitu juga polusi dari berbagai hal, seperti industri, limbah hingga pupuk.

Para peneliti menyinggung pula lahan basah di Uni Eropa yang terus menghilang. Alasannya karena sebagian besar diubah menjadi lahan pertanian.

Madani menekankan manusia untuk hidup dengan lebih sedikit air. Ini bisa dilakukan dengan mengelola air secara lebih cerdas.

Namun sayangnya, belum banyak negara yang melakukan hal mendasar, mencatat yang dimiliki dan yang digunakan. Karena akan sangat tidak masuk akal melakukan solusi seperti penyemaian awan, saat tidak punya laporan soal kekurangan air yang jelas.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ilmuwan Ramal Bencana 2030 Dekat RI: Waduk Kering, Air Susah


Most Popular
Features