China Menggila Serang 42 Negara, Amerika Langsung Bereaksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS), Google, mengungkap dan menggagalkan operasi peretasan besar yang dikaitkan dengan China. Aksi siber ini disebut telah menyerang 53 organisasi di 42 negara, memicu respons cepat dari perusahaan dan otoritas terkait di AS.
Kelompok peretas yang dilacak dengan nama UNC2814 atau Gallium disebut memiliki rekam jejak hampir 10 tahun dalam menyusup ke lembaga pemerintah dan perusahaan telekomunikasi di berbagai belahan dunia.
"Ini adalah perangkat pengawasan berskala besar yang digunakan untuk memata-matai orang dan organisasi di seluruh dunia," kata John Hultquist dari Google Threat Intelligence Group, dikutip CNBC Indonesia dari Reuters, Kamis (26/2/2026).
Sebagai respons, Google bersama sejumlah mitra langsung menghentikan proyek Google Cloud yang dikendalikan kelompok tersebut. Infrastruktur internet yang digunakan untuk operasi juga dinonaktifkan, termasuk akun-akun yang dipakai untuk mengakses Google Sheets sebagai sarana menjalankan pencurian data dan penargetan korban.
Menurut Google, penggunaan Google Sheets membuat aktivitas mereka sulit terdeteksi karena menyatu dengan lalu lintas jaringan normal. Perusahaan menegaskan hal ini bukan merupakan peretasan terhadap produk Google.
Manajer senior Google Threat Intelligence Group, Charley Snyder, mengungkap kelompok tersebut telah mengonfirmasi akses ke 53 entitas di 42 negara, dengan potensi akses tambahan di setidaknya 22 negara lain sebelum operasi dihentikan.
Dalam salah satu kasus, peretas memasang backdoor bernama "GRIDTIDE" pada sistem yang menyimpan data sangat sensitif, termasuk nama lengkap, nomor telepon, tanggal lahir, tempat lahir, nomor identitas pemilih, hingga nomor identitas nasional. Pola serangan ini dinilai konsisten dengan upaya pelacakan dan identifikasi target tertentu secara sistematis.
Google juga menyebut kampanye ini berbeda dari operasi lain yang dikenal sebagai Salt Typhoon, yang sebelumnya dikaitkan oleh pemerintah AS dengan China dan menargetkan ratusan organisasi serta tokoh politik di Amerika Serikat.
"Keamanan siber adalah tantangan bersama yang dihadapi semua negara dan harus ditangani melalui dialog dan kerja sama," ujar juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu, menanggapi tudingan tersebut.
Ia menambahkan, "China secara konsisten menentang dan memberantas aktivitas peretasan sesuai dengan hukum, dan pada saat yang sama dengan tegas menolak upaya untuk menggunakan isu keamanan siber guna mencemarkan atau memfitnah China."
(fab/fab) Add
source on Google