Nasib Karyawan Memprihatinkan, Dikorbankan Demi Ambisi Bos Besar

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
20 February 2026 15:10
Meta CEO Mark Zuckerberg wears the Meta Ray-Ban Display glasses, as he delivers a speech presenting the new line of smart glasses, during the Meta Connect event at the company's headquarters in Menlo Park, California, U.S., September 17, 2025. REUTERS/Carlos Barria
Foto: REUTERS/Carlos Barria

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Meta Mark Zuckerberg diketahui punya ambisi besar soal kecerdasan buatan (AI). Namun ambisi itu dibayar dengan mengorbankan para karyawan.

Financial Times melaporkan Meta mengurangi opsi saham milik karyawan sebesar 5%. Kebijakan itu dilakukan karena Meta berencana menggelontorkan investasi miliaran dolar AS pada dalam menggenjot pengembangan AI di perusahaan, dikutip dari Reuters, Jumat (20/2/2026).

Reuters menyebutkan Meta menolak berkomentar soal laporan tersebut.

Jika kabar ini benar, pemangkasan opsi saham bagi karyawan sudah dilakukan dua kali oleh Meta. Laporan yang sama menyebutkan perusahaan telah memangkas penghargaan saham untuk karyawan sekitar 10% tahun lalu.

Langkah yang diambil Meta itu, menurut laporan Financial Times, sangat mengejutkan sejumlah karyawan.

Meta diketahui ikut dalam pertandingan sengit industri AI di Sillicon Valley. Para raksasa teknologi berupaya untuk saling mengungguli dalam pembangunan pusat data.

Untuk mewujudkan hal tersebut, induk perusahaan Meta menyiapkan uang yang tak sedikit. Setidaknya perusahaan memperkirakan pengeluaran modal tahun ini berkisar US$115 miliar hingga US$135 miliar (Rp 1.941 triliun-Rp 2.279 triliun).

Bukan hanya menyiapkan uang, Meta juga mengalihkan sumber daya perusahaan untuk berfokus pada AI. Perusahaan diketahui baru saja memecat 10% karyawan di unit Reality Labs karena Meta mengalihkan sumber daya sejumlah produk realitas virtual ke perangkat wearables.

Reality Labs diketahui mengerjakan ambisi Zuckerberg sebelumnya yakni Metaverse. Unit tersebut diketahui juga telah merugi lebih dari US$70 miliar sejak 2021.

Sementara itu, Meta tengah membangun sejumlah pusat data berskala gigawatt di Amerika Serikat (AS). Salah satunya di Louisiana yang menghabiskan uang hingga US$50 miliar (Rp 844 triliun).

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Data Center Raksasa Seukuran 70 Lapangan Bola Mau Dibangun di Sini


Most Popular
Features